Rumah tipe menengah (lebih dari 36m2 sampai dengan 70m2) menyumbang kenaikan sebesar 1,08%, sedangkan rumah tipe kecil (<36m2) menyumbang kenaikan 0,91% dan rumah tipe besar (>70m2) menyumbang kenaikan 0,61%.
Pada triwulan I-2016, harga rumah diprediksi mengalami kenaikan sebesar 0,6% dipengaruhi oleh perubahan harga rumah tipe kecil (1,53%), tipe menengah (0,30%) dan besar (-0,15%).
Untuk harga properti sekunder, rumah tipe menengah dan menengah atas memiliki kontribusi yang hampir sama. Rumah tipe menengah mengalami peningkatan 0,69% lebih tinggi dibandingkan tipe menengah atas, yaitu 0,65% yang mengindikasikan tipe menengah lebih diminati.
Kondisi ini terkonfirmasi di mana rumah dengan harga jual di bawah Rp 1,5 miliar memiliki waktu penjualan 3 – 6 bulan, sedangkan rumah dengan harga jual di atas Rp 2 miliar mengalami banyak koreksi harga karena waktu penjualannya yang relatif lama. Secara keseluruhan, kecepatan penjualan properti sekunder di Surabaya mengalami perlambatan dari sebelumnya 1 – 3 bulan menjadi 3 – 6 bulan.
Berdasarkan pembagian wilayah, wilayah Surabaya Selatan dan Timur mendorong kenaikan harga yang dominan. Hal ini disebabkan perkembangan di Surabaya Timur dengan munculnya berbagai aktivitas komersil seperti pusat bisnis kuliner dan tempat makan di sepanjang Jl. Kertajaya yang mengarah ke pusat pendidikan di Surabaya Timur. Selain itu juga kemunculan pusat retail serta dibukanya ring road turut memicu kenaikan harga.
Wilayah Surabaya Utara terpantau stagnan dan cenderung menurun disebabkan persepsi masyarakat terhadap wilayah utara denga citra lokasi pesisir sebagai pusat niaga, pergudangan dan bongkar muat yang berujung menurunkan prefensi masyarakat untuk bermukim di sana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




