Petani di Desa Sendang, Kecamatan Senori Tuban saat tanam padi. foto: suwandi/ BANGSAONLINE
Ia bahkan menyarankan agar dibentuk tim khusus supaya penyebarannya tepat sasaran. Sebab, pengalaman musim tanam yang lalu, ada saja oknum yang menggelapkan pupuk untuk dijual ke luar Tuban.
“Kalau dibiarkan maka kasus yang terjadi pada musim lalu akan terjadi pada tahun ini. Mengantisipasi persoalan itu pemerintah harus mencegah permainan harga pupuk yang dibuat oleh oknum yang nakal,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, Farid Ahmadi, ketika dikonfirmasi bangsaonline.com mengenai keluhan para petani tidak menjelaskan secara detail. Namun, ia memastikan harga pupuk di lapangan akan dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
Ia juga membantah terkait kelangkaan pupuk. "Semua sudah memakai perhitungan sesuai jumlah petani yang ada di Tuban. Namun, petani yang menggarap pesanggem untuk musim tanam yang lalu belum diberi jatah. Akan tetapi, untuk musim ini mereka bakal mendapatkan jatah pupuk," kata Farid kepada bangsaonline.com
“Untuk mengantisipasi ketersedian atau harga pupuk yang tidak sesuai dengan HET, kami sudah membentuk tim yang nantinya akan mengawasi peredaran dan terkait harga pupuk,” jelasnya.
Untuk diketahui, saat ini HET di pasaran untuk pupuk jenis NPK harganya Rp Rp 115 ribu dengan berat 50 kilogram. Sedangkan, pupuk urea HET mencapai Rp 90 ribu per kilogram dan untuk pupuk ZA harganya Rp 70 ribu per sak. (wan/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




