Dia melanjutkan, saat itu Rasiyo baru pulang dan dikawal polisi. Nah, kata dia, anak-anak kan tidak tahu kalau itu Rasiyo, dikasihlah Rasiyo brosur Risma-Whisnu. "Dia (Rasiyo) marah-marah. Anak-anak, ada empat orang, lari. Dari enam orang tinggal dua orang. Empat anak ini pergi ketakutan, karena diancam akan dilaporkan ke RT dan akan dipukuli."
Kemudian, masih cerita Nur sambil menirukan ucapan dan makian Rasiyo, "Saya dipanggil Rasiyo. Dia bilang sambil marah-marah: Jangan di sini, ini wilayah saya. Saya lapor RT bisa digebuki (dipukuli). Kalau cari duit jangan gitu."
"Terus saya minta maaf dan bilang, anak-anak tidak tahu, saya minta maaf. Polisi yang ngawal Rasiyo juga kasih peringatan ke saya. Saya minta maaf lagi dan bilang memang arah saya ndak ke sini, hanya kebetulan lewat, dan anak-anak tidak tahu nempel leafletnya di wilayah ini," sambung Nur.
Terpisah, Tim Pemenangan Rasiyo-Lucy Kurniasari, Zainul Arifin dihubungi wartawan, tidak membantah peristiwa tersebut. Arifin menceritakan kronologi peristiwa versi pihaknya.
"Tadi siang, tim kampanye Risma-Whisnu menyebar brosur daan stiker di lingkungan kediaman, rumah Rasiyo. Lalu tim tersebut menempell dan membagi-bagikan stiker tersebut ke rumahnya Rasiyo. Hal ini yang membuat Paklik Rasiyo langsung menegur tim kampanye Risma-Whisnu. Menegur bukan memarahi," dalihnya.
Arifin menambahkan, "Etika tim kampanye Risma-Whisnu perlu dipertanyakan dengan membagi-bagikan stiker di rumah kediaman Rasiyo. Tapi kami tak mau masalah ini diperbesar. Kami juga tak memberitahukan kejadian ini ke Tim Pemenangan Risma-Whisnu," pungkasnya. (lan/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






