PKB dan Ikhtiarnya Menjaga Mata Air Pesantren

PKB dan Ikhtiarnya Menjaga Mata Air Pesantren Aguk Irawan. Foto: dok. pribadi

Di bawah komando Muhaimin Iskandar, bersama Nasaruddin Umar, Arifatul Choiri Fauzi, serta Brigjen Pol. Dr. Nurul Azizah dari Bareskrim Polri, para pemuka sesungguhnya sedang memulihkan amanah yang sempat retak.

Ada keberanian moral yang besar ketika KH. Abubakar Sidiq membacakan lima butir komitmen itu. Ia terdengar seperti ikrar pertobatan sekaligus pembelaan. Komitmen itu menegaskan kembali bahwa relasi antara guru dan santri adalah relasi kasih sayang, bukan intimidasi.

Lebih dari itu, ada kerendahan hati yang mendalam untuk meruntuhkan dinding keangkuhan: mengedepankan pendekatan yang berpihak pada korban (victim-centered approach) sebagaimana banyak dianjurkan dalam pedoman United Nations dan World Health Organization tentang perlindungan korban kekerasan seksual.

Sebab kejahatan yang ditutupi tidak akan pernah menjadi suci; ia hanya akan menjadi nanah yang perlahan membunuh jiwa-jiwa muda para santri. Pesantren yang ramah anak bukan sebuah utopia yang asing. Ia adalah kepulangan.

Ia adalah upaya mengembalikan Ampel Denta ke khitahnya. Membiarkan terbuka pada sinergi, akuntabel, dan berani menegakkan keadilan hukum adalah cara terbaik menjaga marwah institusi yang telah berusia berabad-abad ini.

Gus Muhaimin benar: harus menjadi tempat paling aman. Jika di rumah Tuhan dan tempat menuntut ilmu kita tidak lagi menemukan rasa aman, lalu ke mana lagi anak-anak kita harus menitipkan masa depan mereka?

Langkah bersama ini adalah fajar kecil. Sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa suci yang telah mengalir sejak zaman para resi hingga para wali akan tetap jernih, tetap mengalirkan berkah, dan senantiasa memeluk anak-anak kita dengan jemari kasih yang tak melukai. Wallahu'alam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO