Khariri Makmun. Foto: dok. pribadi
Padahal dunia sedang bergerak menuju fase yang sangat keras yaitu perang dagang global, perebutan sumber daya, dominasi AI, krisis demokrasi, kebangkitan populisme, hingga fragmentasi identitas sosial.
Dalam situasi seperti itu, umat Islam membutuhkan organisasi yang mampu menjadi pusat orientasi moral sekaligus pusat transformasi sosial. Dan NU sebenarnya memiliki peluang besar untuk memainkan peran itu.
Tetapi peluang tersebut hanya bisa diwujudkan jika NU berani melakukan reformasi besar-besaran.
Pertama, NU harus keluar dari jebakan politik pragmatis. Politik memang penting, tetapi jika seluruh energi organisasi tersedot ke orbit kekuasaan, maka NU akan kehilangan independensi moralnya. Organisasi sebesar NU tidak boleh hanya menjadi alat legitimasi politik rezim atau kendaraan kepentingan elit.
Kedua, NU harus mulai serius membangun kekuatan ekonomi dan teknologi umat. Pesantren tidak cukup hanya mengajarkan kitab kuning. Pesantren masa depan harus menjadi pusat inovasi sosial, kewirausahaan, teknologi, bahkan pengembangan AI berbasis etika Islam. Jika tidak, generasi muda Nahdliyyin akan terus menjadi konsumen peradaban, bukan pencipta peradaban.
Ketiga, NU perlu membangun kembali otoritas intelektualnya. Selama ini NU kuat dalam tradisi fiqh dan tasawuf, tetapi relatif lemah dalam produksi pemikiran strategis global. Padahal dunia modern membutuhkan sintesis baru antara Islam, teknologi, ekonomi, demokrasi, dan kemanusiaan.
NU seharusnya mampu menjadi pusat pemikiran Islam global yang menawarkan alternatif di tengah krisis kapitalisme liberal maupun ekstremisme agama.
Keempat, NU harus kembali menempatkan akhlak sebagai pusat legitimasi kepemimpinan. Sebab sehebat apa pun organisasi, ketika elitnya kehilangan integritas, maka kepercayaan publik akan runtuh perlahan. Dan sekali kepercayaan hilang, sangat sulit mengembalikannya.
Pada akhirnya, tantangan terbesar NU bukan datang dari luar. Bukan dari kelompok radikal, bukan dari liberalisme global, bahkan bukan dari tekanan geopolitik internasional.
Tantangan terbesar NU adalah apakah organisasi ini masih memiliki keberanian untuk melakukan koreksi diri sebelum terlambat ?
Sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar jarang hancur karena serangan musuh. Mereka biasanya melemah karena kehilangan arah, kehilangan visi, dan kehilangan kualitas kepemimpinan.
NU hari ini sedang berada di titik kritis itu.
Jika mampu melakukan pembaruan, NU bisa tetap menjadi jangkar moral Indonesia sekaligus pemain penting dalam peradaban Islam global abad ke-21.
Tetapi jika terus terjebak dalam konflik elit, pragmatisme politik, dan krisis orientasi, maka NU berisiko hanya menjadi organisasi besar yang hidup dari romantisme masa lalu, sementara masa depan bergerak tanpa menunggunya.[]
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




