General Manager Hady & Adahi Program, Seraj Mohammed Alfelali (tengah) saat memberikan keterangan pers
“Jadi kami memiliki kriteria tertentu. Berdasarkan hal itu kami menentukan porsi daging yang akan dikirim ke negara-negara tersebut. Jadi ini tidak konstan, bisa berubah setiap tahun berdasarkan situasi di seluruh dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan, daftar negara penerima bantuan daging terus berubah mengikuti kondisi global dalam beberapa tahun terakhir.
“Selama lima sampai delapan tahun terakhir banyak kondisi yang memengaruhi seluruh dunia, seperti bencana alam, perang, penyakit, dan virus. Jadi tidak tetap, berubah sesuai kondisi setiap tahun,” katanya.
Sementara itu, Indonesia tidak termasuk negara tujuan distribusi daging dam karena adanya regulasi domestik terkait impor daging dari luar negeri.
“Karena otoritas Indonesia tidak mengizinkan daging yang disembelih di luar Indonesia untuk diimpor. Jadi ini karena masalah regulasi, bukan alasan lain. Itu regulasi lokal, bukan dari pihak kami,” ucap Seraj.
Dalam kunjungan yang difasilitasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Arab Saudi bersama Kamar Dagang dan Industri Arab Saudi tersebut, media diajak melihat langsung proses penyembelihan dan pengolahan hewan dam di fasilitas Adahi di Makkah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, proses penyembelihan dilakukan menggunakan peralatan modern dengan sistem terintegrasi. Area pemotongan utama berada di lantai dasar dengan kapasitas tampung belasan ribu ekor hewan.
Setelah disembelih, hewan diproses di lantai dua untuk tahap pengulitan dan pemisahan bagian daging.
Selanjutnya, daging dibawa ke ruang pencucian, pendingin, hingga pengemasan sebelum didistribusikan ke negara tujuan. (msn/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




