Mawar Merah pada Kerudung Jadi Penanda Unik Jemaah Haji asal Lamongan di Madinah

Mawar Merah pada Kerudung Jadi Penanda Unik Jemaah Haji asal Lamongan di Madinah Jemaah haji asal Lamongan mengenakan mawar di kerudung sebagai penanda agar tidak terpisah dari rombongan

LAMONGAN,BANGSAONLINE.com - Ada yang unik dari rombongan Jemaah haji wanita asal Kabupaten .

Penampilan mereka setibanya di tanah suci mencuri perhatian di Madinah karena mengenakan mawar merah sintetis sebagai penanda khusus rombongan.

Di tengah padatnya aktivitas ribuan di Kota Madinah, mawar merah yang disematkan di kerudung dan topi itu bukan sekadar aksesori. 

Penanda tersebut digunakan agar para jemaah, khususnya lanjut usia, tidak terpisah dari rombongan saat berada di Masjid Nabawi maupun kawasan hotel.

Salah seorang asal , Siti Fatimah, mengatakan penggunaan mawar merah telah disepakati sejak masih berada di Tanah Air.

Menurut dia, warna merah yang mencolok memudahkan anggota rombongan saling mengenali dari kejauhan.

"Ini untuk tanda pengenal biar mudah dikenali dari jauh. Kalau dari jauh kelihatan mawar merahnya, oh itu teman kita," ujarnya, Selasa, 12 Mei 2026.

Siti menambahkan, penanda tersebut sudah dikenakan sejak keberangkatan dari Embarkasi Surabaya. Ia tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 34 yang merupakan bagian dari KBIHU Mawar.

Tidak hanya jemaah perempuan, rombongan asal juga menyiapkan tanda khusus bagi jemaah laki-laki. Para jemaah pria mengenakan slayer atau syal kombinasi hijau dan oranye yang dikalungkan di leher.

Inisiatif itu muncul sebagai bentuk antisipasi terhadap padatnya aktivitas dan besarnya jumlah dari berbagai negara. Dengan penanda seragam, koordinasi antara ketua rombongan dan anggota dinilai lebih mudah dilakukan.

Meski memiliki penanda mandiri, petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tetap mengingatkan jemaah agar selalu membawa identitas resmi yang diberikan pemerintah. Gelang identitas, kartu jemaah, dan tas paspor diminta tetap digunakan selama beraktivitas.

Penanda mawar merah tersebut dinilai menjadi bentuk kearifan lokal yang membantu petugas haji dalam mengenali asal daerah jemaah apabila terjadi situasi tertentu.

"Yang penting rukun, kompak, dan saling menjaga satu sama lain selama menjalankan ibadah di tanah suci," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO