Jemaah haji asal Lamongan mengenakan mawar di kerudung sebagai penanda agar tidak terpisah dari rombongan
Siti menambahkan, penanda tersebut sudah dikenakan sejak keberangkatan dari Embarkasi Surabaya. Ia tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 34 yang merupakan bagian dari KBIHU Mawar.
Tidak hanya jemaah perempuan, rombongan asal Lamongan juga menyiapkan tanda khusus bagi jemaah laki-laki. Para jemaah pria mengenakan slayer atau syal kombinasi hijau dan oranye yang dikalungkan di leher.
Inisiatif itu muncul sebagai bentuk antisipasi terhadap padatnya aktivitas dan besarnya jumlah jemaah haji dari berbagai negara. Dengan penanda seragam, koordinasi antara ketua rombongan dan anggota dinilai lebih mudah dilakukan.
Meski memiliki penanda mandiri, petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tetap mengingatkan jemaah agar selalu membawa identitas resmi yang diberikan pemerintah. Gelang identitas, kartu jemaah, dan tas paspor diminta tetap digunakan selama beraktivitas.
Penanda mawar merah tersebut dinilai menjadi bentuk kearifan lokal yang membantu petugas haji dalam mengenali asal daerah jemaah apabila terjadi situasi tertentu.
"Yang penting rukun, kompak, dan saling menjaga satu sama lain selama menjalankan ibadah di tanah suci," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




