Polisi saat cek kondisi santri di RSU PKU Muhammadiyah Jombang. Foto: Aan Amrulloh/BANGSAONLINE
JOMBANG,BANGSAONLINE.com - Puluhan santri Pondok Pesantren Darrut Taubah di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap menu buka puasa.
Insiden yang terjadi pada Kamis (5/3/2026) malam itu membuat para santri mengalami gejala mual dan muntah hebat.
Para santri diketahui mengonsumsi nasi rawon dan telur asin saat berbuka puasa. Peristiwa tersebut mulai memuncak sekitar pukul 19.00 WIB.
Suasana pesantren sempat mencekam ketika puluhan santri harus dievakuasi menggunakan ambulans.
Evakuasi dilakukan karena kondisi fisik para santri yang terus melemah.
Salah satu santri, M. Surur (18), mengatakan gejala mual mulai dirasakan secara bersamaan saat ibadah tarawih berlangsung.
Ia menyebut makanan yang dikonsumsi sebelumnya adalah nasi rawon dari pihak pondok.
Selain itu, para santri juga mengonsumsi telur asin yang berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Awalnya mual-mual, tapi rasanya beda dari mual biasa. Banyak teman-teman, terutama yang putri, kondisinya lebih parah sampai harus digotong," ujarnya.
Hingga Kamis malam, para korban menjalani perawatan intensif di RS PKU Muhammadiyah Mojoagung.
Berdasarkan data sementara dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, jumlah korban mencapai 30 santri.
Dari jumlah tersebut, 10 santri merupakan putra dan 21 lainnya putri.
Kepala Dinas Kesehatan Jombang Hexawan Tjahja Widada mengonfirmasi para santri menunjukkan indikasi klinis intoleransi makanan atau keracunan.
Ia menyebut gejala yang dialami para korban didominasi mual dan muntah.
"Gejala utamanya mual dan muntah. Petugas medis sudah bergerak cepat memberikan penanganan darurat kepada seluruh santri yang terdampak," jelas Hexawan saat meninjau lokasi.
Pihak Dinas Kesehatan Jombang belum dapat memastikan sumber keracunan yang dialami para santri.
Petugas masih menelusuri apakah keracunan berasal dari menu rawon yang disediakan pondok atau telur asin dari program MBG.
Untuk memastikan penyebabnya, tim medis telah mengamankan sejumlah sampel makanan. Sampel tersebut meliputi sisa nasi rawon, telur asin, serta muntahan pasien.
"Kami tidak ingin berspekulasi. Sampel akan dikirim ke laboratorium besok untuk memastikan apakah pemicunya berasal dari makanan tertentu atau faktor lain," tutupnya.
Hingga saat ini, 10 santri dilaporkan sudah diperbolehkan pulang. Sementara santri lainnya masih menjalani perawatan medis di rumah sakit. (aan/van)















