Sementara itu, Inyong Maulana menegaskan bahwa turnamen ini menjadi bukti soliditas wartawan Surabaya dan Jawa Timur. Ia berharap kegiatan serupa terus berlanjut sebagai wadah mempererat kebersamaan sekaligus menjaga kebugaran.
“Ini bukan sekadar kompetisi, tapi silaturahmi dan penguatan solidaritas antar wartawan. Semoga ke depan makin meriah dan makin profesional,” ujarnya.
Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, mengapresiasi jalannya turnamen dan semangat sportivitas yang ditunjukkan para peserta.
“Menang Judes, tapi sebenarnya bisa saja juara bersama. Namun karena kebutuhan pertandingan, harus ada pemenang. Saya melihat final ini luar biasa. Ini bukan sekadar wartawan, mereka benar-benar pemain lapangan,” ujarnya.
Ia berharap turnamen serupa dapat digelar lebih besar pada tahun-tahun mendatang. Bahkan, ia membayangkan format yang lebih luas dengan melibatkan perwakilan PWI kabupaten/kota maupun klub-klub wartawan.
“Yang penting semangatnya satu, bahwa ini semua adalah wartawan. Kalau perlu nanti Jawa Timur jadi tuan rumah turnamen mini soccer tingkat nasional,” katanya.
Di sisi lain, pengamat mini soccer yang turut menyaksikan laga final, Yusandi, menilai penentuan lewat sudden death sepenuhnya ditentukan mental.
“Di situ teknik, strategi, fisik sudah tidak ada. Yang ada hanya mental dan keberanian. Bukan soal keberuntungan atau Dewi Fortuna, tapi siapa yang mentalnya paling kuat,” katanya.
Kemenangan Judes FC malam itu bukan hanya soal trofi, melainkan simbol sportivitas dan semangat pers yang terus menyala di dalam dan luar lapangan.(**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




