Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung diterjunkan untuk penanganan banjir dan distribusi bantuan. (Ist)
JEMBER, BANGSAONLINE.com - Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Jember sejak Kamis (12/2/2026) hingga Jumat (13/2/2026) dini hari mengakibatkan debit sungai meningkat drastis hingga meluap ke permukiman warga.
Data terbaru menunjukkan sebanyak delapan kecamatan terdampak banjir dengan total 3.944 kepala keluarga (KK) merasakan dampak langsung. Ribuan rumah dilaporkan tergenang dengan ketinggian air yang bervariasi.
Kepala Pelaksana BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan bahwa peristiwa ini dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem. Situasi tersebut sejalan dengan peringatan dini yang sebelumnya telah disampaikan oleh BMKG untuk periode 10-20 Februari 2026.
Ia mengungkapkan, hujan lebat yang berlangsung hampir 11 jam berdampak pada sedikitnya sembilan aliran sungai utama. Beberapa di antaranya Sungai Dinoyo, Kaliputih, dan Sungai Bedadung meluap ke kawasan hunian warga.
“Kenaikan debit air mulai terpantau signifikan sejak pukul 18.00. Puncaknya, air masuk ke rumah warga dengan ketinggian bervariasi antara 30 sentimeter hingga 2 meter,” ujar Edy Budi Susilo dalam keterangan resminya, Jumat pagi.
Ia menjelaskan, lonjakan volume air terjadi secara bertahap sebelum akhirnya mencapai puncak pada malam hari. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga tidak sempat menyelamatkan seluruh barang berharganya.
Dari delapan kecamatan terdampak, Kecamatan Rambipuji menjadi wilayah dengan dampak paling besar. Tercatat sebanyak 3.210 KK di daerah tersebut terdampak genangan banjir.
Akibat kondisi itu, sedikitnya 299 warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Mereka menempati sejumlah titik pengungsian seperti rumah ibadah, balai desa, serta rumah tokoh masyarakat setempat.
“Prioritas penanganan saat ini difokuskan di Kecamatan Rambipuji. Kami tengah mengupayakan pendirian dapur umum di empat desa terdampak untuk memastikan kebutuhan pangan pengungsi dan warga tercukupi,” tambahnya.
Selain merendam ribuan rumah, banjir juga menyebabkan kerusakan infrastruktur vital. Tiga jembatan dilaporkan terputus, termasuk jembatan gantung di Sukorambi dan jembatan di Sentul, Desa Suci, Kecamatan Panti. Sebuah pondok pesantren di Kecamatan Ajung turut terdampak luapan air.
Sejak Kamis malam, Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama unsur TNI, Polri, relawan, serta instansi terkait telah diterjunkan ke lokasi terdampak. Mereka melakukan evakuasi warga dan pembersihan material sisa banjir di sejumlah titik, seperti Kampung Ledok dan Kecamatan Kaliwates.
“Personel kami masih berada di lapangan untuk melakukan pendataan lanjutan serta mendistribusikan bantuan logistik. Kami juga telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas PUPR untuk percepatan penanganan infrastruktur yang rusak,” jelas Edy.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai agar tetap meningkatkan kewaspadaan.
Pasalnya, potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan sesuai dengan prakiraan yang telah dikeluarkan otoritas meteorologi.(nga/yud/msn)








