Hadiri Satu Abad NU di Denpasar, Kiai Asep Perkuat Moderasi Islam Gus Dur di Bali

Hadiri Satu Abad NU di Denpasar, Kiai Asep Perkuat Moderasi Islam Gus Dur di Bali Suasa Harlah Satu Abad NU Tahun Masehi yang dikemas dalam acara Silaturahim Alim Ulama & Santri se-Provinsi Bali di Pendopo Khalifa Denpasar Bali, Ahad (8/2/2026). Foto: M. Mas'ud Adnan

Sekedar informasi, Sarekat Islam di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto berdiri pada 10 September 1912. Pada tanggal tersebut, Tjokroaminoto mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI) di Surabaya untuk memperluas cakupan organisasi dari sekadar ekonomi menjadi pergerakan politik dan sosial.

“Tapi paham keagamaan Tjokronoaminoto condong ke Khilafah,” ujar .

Karena itu Kiai Wahab dan Kiai Abdul Chalim kemudian mengundurkan diri dari SI secara baik-baik.

“Karena kalau Khilafah sulit membangun persatuan,” tutur .

Kiai Wahab Hasbullah kemudian mendirikan Nahdlatul Wathan pada 1916.

“Nahdlatul Wathan itu lembaga pengkaderan NU,” tutur Kiai Asep.

Menurut , Kiai Abdul Chalim kemudian banyak menjadi mediator dalam proses komunikasi Kiai Abdul Wahab dengan Hadratussyaikh. Sampai akhirnya Hadratussyaikh merestui Kiai Wahab Hasbullah mendirikan NU.

Tapi Kiai Wahab sendiri, menurut , mendirikan NU juga dengan syarat Hadratussyaikh berkenan memimpinnya. “Kata Kiai Wahab, yang mimpin organisasi ini harus guru saya, yaitu Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari,” ujar .

Karena itu formasi kepemimpinan PBNU perdana terdiri dari Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar Syuriah PBNU, KH Ahmad Dahlan Achyad Wakil Rais Akbar, Haji Hasan Gipo Ketua Tanfidziyah, Kiai Abdul Wahab Katib Awal dan Kiai Abdul Chalim Katib Tsani.

Menurut , ada dua tujuan para ulama pesantren mendirikan NU. Pertama, untuk mengawal dan mengembangkan paham Ahlussunnah Waljamaah (Awaja).

Kebetulan, tutur , terjadi gejolak politik di Haramain atau Hijaz. Abdul Aziz Ibnu Saud mengkudeta Raja Syarif Husain. Abdul Aziz secara keagamaan diback up oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang kemudian mengembangkan ajaran Wahabi.

Saat itulah terjadi penghancuran situs-situs Islam. Bahkan makam Rasulullah hampir saja dihancurkan oleh Raja Abdul Aziz.

Menurut , Raja Abdul Aziz bernafsu menghancurkan situs-situs Islam bukan semata pertimbangan ajaran Wahabi untuk pemurnian Islam tapi juga ada unsur atau tendensi politik.

“Karena Raja Syarif Husain itu dzurriyah Nabi,” ujar kiai miliarder tapi dermawan itu.

Menurut , Raja Abdul Aziz khawatir situs-situs Islam – termasuk makam Nabi Muhammad – menimbulkan mahabbah atau kecintaan rakyat Haramain kepada Raja Syarif Husain yang memang dzuriah Rasulullah. Karena itu situs-situs Islam yang penuh historis dihancurkan.

Menurut , selain menghancurkan situs-situs Islam, Ibnu Saud juga memberangus ajaran Islam yang tak sesuai dengan Wahabi. Termasuk Madzhab Imam Syafii dan lainnya. Karena itu para ulama pesantren sepakat mengirim delegasi untuk menemui Raja Abdul Aziz agar raja yang baru bertahta itu tidak menghancurkan makam Nabi dan memberangus madzahhibul arba’ah.

Namun dalam rapat Komite Hijaz di Surabaya itu muncul pertanyaan delegasi itu atas nama apa. “Kalau atas nama Komite Hijaz tak mungkin ditemui oleh Raja Abdul Aziz,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

Maka saai itulah disepakagi atas nama Nahdlatul Ulama.

“Yang kedua, NU didirikan untuk kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya.

Menurut , jauh sebelum Indonesia merdeka pondok pesantren menjadi pusat pemberontakan tehadap penjajah Belanda. Tapi mereka selalu gagal karena perjuangan mereka terpecah-pecah alias sendiri-sendiri.

“Ketika NU berdiri Belanda sudah merasa bahwa bangsa ini akan merdeka karena selama para pimpinan pesantren inilah yang selalu melakukan perlawanan. Maka ketika mereka bersatu dalam NU mereka pasti bisa memerdekakan bangsanya,” ujar .  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Banjir Bali Menimbulkan Belasan Korban Jiwa':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO