Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom saat memberikan materi social network analysis dan multimodal AI
Kolaborasi Institut STTS dengan Rumah Literasi Digital dipandang sebagai upaya menjembatani kebutuhan industri media dengan pengembangan keilmuan di kampus.
Di tengah maraknya konten otomatis dan risiko disinformasi, pelatihan ini diarahkan agar jurnalis mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, bukan sekadar menjadi pengguna pasif.
Seluruh peserta memperoleh sertifikat “Introduction to Generative AI” sebagai pengakuan kompetensi dasar. Sertifikat ini diharapkan menjadi bekal awal bagi jurnalis untuk beradaptasi dengan ekosistem media digital yang terus berubah.
Melalui bootcamp ini, Institut STTS menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang responsif terhadap dinamika industri dan AI Campus
Tidak hanya mencetak talenta teknologi, kampus ini juga mengambil bagian dalam menjaga kualitas informasi publik dengan membekali jurnalis keterampilan AI yang etis, akurat, dan bertanggung jawab.
Sementara itu, Direktur Rumah Literasi Digital, Andika Ismawan, menyebut pelatihan ini sebagai respons konkret atas tantangan baru dunia jurnalistik di era kecerdasan buatan.
“AI tidak bisa diposisikan sebagai pengganti jurnalis. Teknologi ini adalah alat bantu yang harus dikendalikan dengan literasi, etika, dan kesadaran dampak. Melalui bootcamp ini, kami ingin jurnalis memahami cara kerja AI sekaligus tahu batas penggunaannya,” tuturnya.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan Institut STTS menjadi langkah strategis untuk mempertemukan keunggulan akademik dengan kebutuhan praktis insan pers di lapangan.
“Jurnalis hari ini dituntut cepat, tetapi tetap akurat. Tanpa literasi digital yang memadai, AI justru bisa menjadi sumber kesalahan baru. Karena itu, pelatihan berbasis praktik seperti ini penting agar teknologi digunakan secara kritis dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (mdr/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






