Air, Tradisi, dan Ingatan Kolektif di Songgoriti

Air, Tradisi, dan Ingatan Kolektif di Songgoriti Distri Adi Setiawan.

Oleh: Distri Adi Setiawan*

Di tengah laju modernisasi dan industri pariwisata yang kian masif, sejumlah tradisi lokal justru masih bertahan dan hidup dalam keseharian masyarakat. Salah satunya dapat ditemukan di kawasan sumber air panas Songgoriti, Kota Batu.

Di tempat ini, air tidak hanya dimaknai sebagai komoditas wisata, melainkan sebagai medium budaya yang menyimpan ingatan kolektif, nilai spiritual, dan etika hidup masyarakat Jawa.

Dua tradisi yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Songgoriti adalah nadah banyu dan ngumbah dandang. Keduanya tampak sederhana —mengambil air dan mencuci peralatan dapur— namun sesungguhnya mengandung makna simbolik yang dalam.

Tradisi ini menunjukkan bahwa praktik keseharian masyarakat tradisional tidak pernah benar-benar netral; ia selalu dibingkai oleh sistem makna dan keyakinan tertentu.

Dalam tradisi nadah banyu, masyarakat mengambil air langsung dari sumber air panas yang berada di kawasan Candi Songgoriti. Secara kasat mata, aktivitas ini hanyalah kegiatan mengambil air. Namun, bagi masyarakat setempat, air tersebut diyakini sebagai air yang bersih dan sakral karena bersumber dari peninggalan leluhur.

Air diambil dengan penuh kehati-hatian dan disertai kesadaran spiritual bahwa alam tidak boleh diperlakukan secara serampangan.

Di sinilah terlihat cara pandang masyarakat Jawa terhadap alam. Alam tidak ditempatkan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai entitas yang harus dihormati.

Air menjadi simbol kehidupan, keberkahan, sekaligus pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam dan sejarah leluhurnya. Tradisi nadah banyu mengajarkan etika ekologis yang relevan dengan konteks krisis lingkungan dewasa ini.

Sementara itu, tradisi ngumbah dandang dilakukan secara kolektif, biasanya menjelang bulan Ramadan. Masyarakat, khususnya para perempuan, membawa dandang atau periuk dari rumah masing-masing untuk dicuci bersama di sumber air.

Pada tataran praktis, kegiatan ini bertujuan membersihkan peralatan dapur. Namun, secara simbolik, ngumbah dandang dimaknai sebagai ritual penyucian diri sebelum memasuki bulan suci.

Dandang dalam tradisi ini tidak sekadar benda rumah tangga, melainkan metafora tubuh manusia. Membersihkan dandang berarti membersihkan diri —lahir dan batin— dari kotoran fisik maupun energi negatif.

Air panas Songgoriti dipercaya memiliki daya pemurnian, sehingga ritual ini menjadi sarana persiapan spiritual sebelum menjalani ibadah puasa. Setelah ritual selesai, masyarakat menggelar syukuran sebagai wujud kebersamaan dan rasa terima kasih kepada Tuhan.

Kedua tradisi ini memperlihatkan bahwa budaya Jawa menempatkan kebersamaan sebagai nilai utama. Ngumbah dandang dilakukan secara bersama-sama karena kesucian dan kebersihan tidak dipahami sebagai urusan individual semata, melainkan sebagai tanggung jawab kolektif. Dalam praktik ini, gotong royong bukan sekadar slogan, tetapi nilai hidup yang dijalankan secara nyata.

Jika dibaca melalui kacamata semiotika budaya, tradisi nadah banyu dan ngumbah dandang merupakan sistem tanda yang bekerja pada berbagai lapisan makna. Pada level denotatif, ia adalah aktivitas sehari-hari.

Pada level konotatif, ia merepresentasikan penghormatan terhadap alam, leluhur, dan nilai religius.

Pada level mitos, tradisi ini membangun keyakinan kolektif bahwa air adalah entitas sakral yang menjaga keseimbangan hidup manusia.

Di tengah gempuran budaya global dan komersialisasi pariwisata, keberlangsungan tradisi Songgoriti menjadi pengingat penting bahwa modernitas tidak harus menghapus kearifan lokal. Justru, tradisi semacam ini dapat menjadi sumber refleksi bagi masyarakat modern tentang cara hidup yang lebih selaras dengan alam dan sesama.

Sayangnya, dalam perkembangan pariwisata, tradisi lokal kerap diposisikan hanya sebagai atraksi atau pelengkap destinasi. Jika makna simboliknya diabaikan, tradisi berisiko kehilangan ruh dan berubah menjadi sekadar tontonan.

Oleh karena itu, pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga ritualnya tetap ada, tetapi juga merawat pemahaman kolektif tentang nilai-nilai yang dikandungnya. Songgoriti mengajarkan kepada kita bahwa air, tradisi, dan budaya adalah satu kesatuan yang menyimpan pengetahuan hidup lintas generasi, pengetahuan yang semakin relevan untuk direnungkan hari ini.

*Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang