Foto susu MBG yang digunakan pelaku di Facebook
PAMEKASAN,BANGSAONLINE.com - Seorang warga Kecamatan Pamekasan menjadi korban penipuan pembelian susu sekolah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kerugian mencapai Rp50 juta.
Korban berinisial ST mengaku tertipu setelah membeli susu MBG melalui seseorang yang dikenalnya dari akun Facebook.
"Setelah saya transfer uang Rp50.000.000, nomornya tidak aktif," katanya.
ST mengaku percaya karena sebuah truk pengangkut susu MBG sempat datang dan berhenti di depan rumahnya.
Ia juga sempat mengecek barang yang disebut berjumlah 500 karton dan dinilai sesuai dengan pesanan.
Namun, susu tersebut tidak diturunkan dari truk. Pada saat bersamaan, pemilik akun Facebook yang mengaku sebagai penjual menghubungi korban dan meminta agar pembayaran segera dilunasi.
"Saat itu, barang sampai dia menelepon agar segera transfer baru susu diturunkan sehingga saya percaya," ujarnya.
Setelah korban melunasi pembayaran, akun penjual di Facebook mendadak tidak dapat dihubungi.
Sementara itu, sopir truk menolak menurunkan barang dengan alasan belum menerima konfirmasi pelunasan.
"Sopir truk mendadak mengaku saya belum terkonfirmasi bayar. Akhirnya dia kembali membawa susunya. Saya tidak bisa mencegat mereka lagi karena tidak punya bukti kuat," ucap ST.
ST mengaku sudah terbiasa melakukan transaksi jual beli secara daring dan baru pertama kali membeli susu sekolah. Selama ini, ia mengaku tidak pernah mengalami masalah serupa.
"Saya terus mencari pelakunya. Dia sempat mengirim foto, tapi saya tidak yakin itu foto pelakunya," tuturnya.
Sementara itu, Ali Makki, warga Desa Laden, Kecamatan Pamekasan, menyebut kasus penipuan jual beli susu dengan modus serupa mulai marak terjadi di sejumlah wilayah.
"Di Kecamatan Blumbungan juga ada kasus yang sama. Bahkan di Desa Laden juga ada," ungkapnya.
Ia menjelaskan, modus pelaku dengan mendatangkan truk ke lokasi pembeli, namun barang tidak diturunkan sebelum pembayaran dilakukan. Setelah uang ditransfer, antara sopir truk dan pemilik rekening disebut tidak saling mengenal.
"Bahkan foto yang dikirim pelaku kepada para korban sama persis," terangnya.






