Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, menjelaskan bahwa diklat akan berlangsung selama 30 hari, yang terdiri dari 20 hari tatap muka dan 10 hari pembelajaran daring, serta tambahan penguatan bahasa Arab.
"Kita berharap kedisiplinan, kesamaptaan fisik dari peserta memang diperlukan. Tanpa fisik yang kuat, tanpa disiplin yang kuat, mereka enggak akan bisa menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya," ujar Gus Irfan.
Selama masa penggemblengan, para peserta mendapatkan tempaan fisik, pembinaan karakter disiplin, serta penguatan teknis perhajian. Selain itu, pembagian tugas, lokasi penempatan, hingga tim kerja sudah ditentukan sejak awal masa diklat agar petugas lebih siap saat bertugas di tanah suci.
Kementerian Haji dan Umrah tidak main-main dalam urusan kedisiplinan. Gus Irfan menegaskan bahwa ada sanksi tegas bagi peserta yang melanggar aturan selama pelatihan maupun saat bertugas nanti.
“Kalau sudah diperingatkan satu-dua kali tidak bisa, kita pulangkan. Di Saudi pun sama, bisa dipulangkan sebelum waktunya,” tegasnya.
Fokus pada Kompetensi dan Integritas

Senada dengan Menteri, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, menyatakan bahwa perubahan model pelatihan ini bertujuan menciptakan petugas yang profesional, kompeten, dan berintegritas.
Menurut Puji, manajemen kelas kali ini akan jauh lebih spesifik. Pelatihan akan lebih banyak fokus pada sesi kelas Tugas dan Fungsi (Tusi) layanan dibandingkan pertemuan kelas besar.
“Pelatihan PPIH Arab Saudi tahun ini akan lebih banyak sesi kelas Tusi layanan dibandingkan kelas besar. Manajemen kelas dan durasi pelatihan juga dibuat berbeda,” tutur Puji Raharjo.
Untuk memastikan standar kedisiplinan tetap tinggi, Kementerian Haji dan Umrah melibatkan unsur TNI dan Polri dalam proses pendampingan pelatihan. “Dalam hal kedisiplinan, nanti akan dibantu oleh TNI/Polri,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




