Dr KH Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan) saat menerima Prof Dr KH Asep Saifudddin Chalim, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur di kantor Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia Jalan Thamrin Jakarta, Selasa (16/12/2025). Foto: bangsaonline
Kiai Asep Saifuddin Chalim langsung merespons.
“Benar itu. Saya dulu saat menjelang Muktamar NU di Lampung sudah pernah menyampaikan di depan para kiai di Pondok Pesantren Asshodiqiyah Semarang,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pegunu).
Menurut Kiai Asep, saat itu ada pertemuan kiai di pesantren yang diasuh oleh KH Shodiq Hamzah Gayamsari Semarang Jawa Tengah. Dalam acara itu hadir KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Dimyati Rais, KH Miftachul Akhyar, KH Yahya Cholil Staquf, KH As’ad Said Ali, KH Said Aqil Siraj, dan kiai-kiai lain.
“Saya sampaikan bahwa saya baru pulang dari Aceh. Saya bertemu ketua-ketua PCNU. Saya mendapat informasi bahwa ada dugaan risywah besar-besaran. Tapi kiai-kiai dalam pertemuan itu diam, tak merespons. Ketika saya keluar, setelah acara selesai, Kiai Dimyati mengejar saya. Beliau bilang: pun ngoten, jangan begitu,” kata Kiai Asep.
Padahal, kata Kiai Asep, risywah inilah pangkal masalah bagi NU.
“Sekarang PBNU konflik kan tak lepas dari risywah itu. Kepengurusan PBNU tak berakah,” tegas putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU, yang pada 10 November 2023 ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




