Salah satu adegan dalam film dokumenter yang mengangkat Ritual Hodo, tradisi masyarakat Dusun Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Situbondo.
Hal senada disampaikan Muhammad Hesa Maulana. Ia menegaskan pentingnya ketelitian dalam pengambilan gambar.
"Ritual Hodo memiliki atmosfer sakral. Saya harus menangkap momennya tanpa mengganggu jalannya upacara. Apresiasi BRIN ini bukan hanya kebanggaan tim, tapi juga bentuk penghormatan untuk budaya Situbondo,” paparnya.
Sebagai bentuk apresiasi, BRIN memberikan insentif sebesar Rp18 juta kepada para kreator. Insentif ini diharapkan menjadi dorongan bagi generasi muda untuk terus menghasilkan karya berdampak, terutama dalam pelestarian pengetahuan lokal.
Pihak Prodi Televisi dan Film FIB Unej turut bangga atas pencapaian ini. Mereka menilai prestasi tersebut membuktikan kemampuan mahasiswa mengolah isu budaya menjadi karya audiovisual yang bernilai bagi masyarakat luas.
Keberhasilan film “The Hodo” tidak hanya membanggakan Unej, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi Situbondo.
Tradisi Hodo kini terdokumentasikan dengan baik dan siap menjadi sumber pengetahuan. Rencananya, film ini akan dibawa ke berbagai festival film dan forum kebudayaan nasional maupun internasional untuk mengenalkan kekayaan budaya Situbondo lebih luas. (sbi/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




