Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, saat menyampaikan taushiyah di Pondok Pesantren Assyafiq Nurul Huda Sea Mihanasa Sulawesi Utara yang diasuh KH Rikson Hasanati. Foto:MMA/bangsaonline
Di Pesantren Assyafiq Nurul Huda yang terletak di kabupaten Minahasa ini para kiai dan tokoh masyarakat telah menunggu kedatangan Kiai Asep dan rombongan. Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, tampak Rais Syuriah PWNU Sulawesi Utara KH Syaban Mauludin, Ketua Tanfidziyah PWNU Sulut KH Ulyas Taha, Rektor IAIN Manado Dr Ahmad Rajafi dan para kiai pengasuh pondok pesantren dari bebagai kabupaten se-Sulut.
Di pesantren inilah digelar pelantikan Pengurus Wilayah JKSN Sulut yang dipimpin oleh Kiai Rikson Hasanati. Pengurus Wilayah JKSN Sulut itu dilantik oleh Muhamamd Ghofirin.
Dalam acara yang diikuti ratusan ulama dan tokoh masyarakat itu Kiai Asep menyampaikan taushiyah. Ia mengajak para pimpinan pesantren untuk melakukan transformasi orientasi pengelolan pondok pesantren.
Menurut Kiai Asep, kalau dulu orientasi pondok pesantren adalah memerdekaan bangsa yang terjajah, sekarang untuk mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan Republik Indonesia.
“Yaitu Indonesia maju, adil dan makmur,”kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu.
Menurut Kiai Asep, transformasi pesantren itu sebenarnya dimulai sejak Mukamar ke-27 NU pada 8 hingga 12 Desember 1984 di Situbondo Jawa Timur.
“Para kiai NU mengambil kaidah al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Yaitu memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik," kata Kiai Asep mengutip kaidah fiqih yang dijadikan dasar para kiai NU dalam melakukan transformasi pendidikan pesantren.
Dalam praktik trasformasi pesantren itu, menurut Kiai Asep, para kiai NU mempertahankan sistem sorogan dan bandongan yang berarti mempertahankan sistem pesantren yang baik selama ini. Tapi juga mengambil sistem dan metode baru yang dianggap lebih baik, yaitu sistem pendidikan klasikal. Seperti Madrasah Aliyah, SMA dan lainnya.
“Amanatul Ummah telah sukses melakukan transformasi,” tutur Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
Kiai Asep kemudian mempersilakan para kiai dan tokoh masyarakat yang hadir membaca surat kabar HARIAN BANGSA yang memuat berita berjudul “1.256 Santri Amanatul Ummah Lolos PTN dan Luar Negeri”. Dalam acara itu surat kabar HARIAN BANGSA edisi Sabtu 25 Oktober 2025 itu diedarkan ke peserta.
“Sebanyak 65 santri diterima di Kedokteran di Jerman, China, Unair, UI, Unnhan dan perguruan tinggi lainnya. Ada 10 santri Amanatul Ummah yang diterima di Unhan, enam diantaranya di Kedokteran. Padahal sekolah lain ada satu murid saja yang diterima di Unhan tasyakuran sampai 10 kali saking senangnya. Karena selain beasiswa juga, kalau lulus Unhan langsung berpangkat Letnan Dua,” ujar kiai miliarder tapi dermawan itu.
Para kiai dan ibu-ibu yang hadir tampak terkesima dengan pemaparan Kiai Asep. Banyak yang mengacungkan tangan ingin mengajukan pertanyaan. Tapi waktu sudah larut malam.
Acara di Pesantren Assyafiq Nurul Huda Sea Mihanasa itu berakhir tengah malam. Kiai Asep kemudian menuju hotel untuk istirahat karena besok pagi, Sabtu (8/11/2025), harus menghadiri pelantikan PW, PC dan pengurus Anak Cabang Pergunu se Sulawesi Utara dan pertemuan dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Utara (PWNU Sulut). (bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




