Agy Yudhistira, praktisi okultisme Nusantara sekaligus konsultan energi spiritual.

Jaran Goyang dalam Dunia Pusaka
Di luar ilmu pelet, Agy memaparkan fakta menarik bahwa Jaran Goyang juga dikenal dalam dunia perkerisan.
“Dari yang saya ketahui, Jaran Goyang sendiri juga merupakan nama salah satu dapur pusaka keris yang cukup langka untuk ditemui versi sepuhnya,” jelasnya.
Keris dengan dapur Jaran Goyang memiliki luk tujuh. Dalam budaya Jawa, angka tujuh dimaknai sebagai angka pitulungan atau pertolongan. Filosofinya, menurut Agy, sangat dalam: usaha manusia harus sejalan dengan permohonan restu kepada Yang Maha Kuasa.
“Keris Jaran Goyang sendiri memiliki ricikan luk tujuh yang dalam budaya Jawa kita maknai sebagai angka pitulungan atau pertolongan,” ungkapnya.
“Di sini menjelaskan bahwa proses mengubah keliaran menjadi sesuatu yang terkendali tidak serta merta hanya mengandalkan upaya duniawi seperti memandikan atau merawat si kuda saja, namun juga butuh keajaiban ilahiah dalam bentuk restu Sang Kuasa.”
Ketika ditanya apakah ia memiliki keris ini, Agy membenarkan. “Ya, saya punya keris Jaran Goyang. Simpanan pribadi yang sering saya gunakan saat meditasi maupun ritual,” ujarnya.
Baginya, pusaka bukan sekadar benda bertuah, tetapi sarana konsentrasi batin dan penghubung energi antargenerasi. Ia menegaskan pusaka tidak mematikan ikhtiar manusia, justru menjadi pengingat bahwa manusia hidup bukan hanya di dunia fisik.
Makna Proses dalam Ilmu Pelet
Lebih jauh, Agy menolak pemahaman praktis dan instan terhadap ilmu pelet. Dalam ajaran leluhur, ia menegaskan tidak ada hasil tanpa laku.
“Dengan memahami filosofi nama Jaran Goyang, kita bisa paham bahwa ilmu pelet tidak serta merta bisa disamaratakan definisinya menjadi sebuah proses pemaksaan,” tegasnya.
“Karena dalam kaweruh yang barusan saya jelaskan justru menyoroti pentingnya sebuah proses, yakni memandikan atau merawat sebagai bagian dari upaya lahiriah, dan tentu saja tidak lupa tirakat batiniah dalam usaha mendapatkan restu dari Sang Kuasa.”
Ia menambahkan, pelet sejatinya merupakan ilmu penyelarasan energi antara pelaku dan orang yang dituju. Dalam praktik kanuragan dan kebatinan, pelet bukan memaksa hati seseorang, tetapi memurnikan niat, menghaluskan rasa, dan mengundang kecocokan batin.
Menjaga Warisan Spiritual Nusantara
Di akhir wawancara, Agy menilai generasi sekarang perlu belajar kembali esensi ilmu leluhur, bukan sekadar efeknya.
“Kita ini mewarisi kekayaan budaya spiritual yang luar biasa, tapi jika dipahami secara dangkal, kita hanya akan mengambil kulitnya saja dan kehilangan makna utamanya,” tutur Agy.
“Jaran Goyang bukan ilmu untuk memaksa cinta, tapi tentang bagaimana manusia belajar selaras: dengan dirinya sendiri, orang lain, dan kehendak Tuhan” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




