Tren Wakil Bupati Melawan Bupati di Jatim: Wabup Sidoarjo, Jember dan Bojonegoro

Tren Wakil Bupati Melawan Bupati di Jatim: Wabup Sidoarjo, Jember dan Bojonegoro Subandi dan Mimik Idayana saat masih cabup dan cawabup. Sangat kompak dan akur. Kini mereka konflik terbuka. Foto: radar sidoarjo

“Mutasi ini sudah sesuai aturan. Mekanismenya memang dari BKN. Kalau ada yang bilang tidak sah, ya ada stakeholder-nya. Yang jelas BKN sudah menjawab regulasinya sesuai, jadi tidak ada masalah,” ujar Bupati Subandi di Kantor Kecamatan Waru, Minggu (21/9/2025).

Wakil Bupati Mimik sebelumnya juga menyinggung klarifikasi Badan Kepegawaian Negara (BKN). Menurut dia, BKN hanya memverifikasi data, tapi tidak mengetahui detail tahapan pembahasan mutasi di internal TPK. “BKN hanya memastikan data sesuai, tapi prosesnya tidak melalui tahapan sebagaimana mestinya,” kata Mimik.

Tren wakil bupati melawan bupati juga terjadi di Jember. Bahkan perlawanan wakil bupati Jember Djoko Susanto terhadap Bupati Jember Muhammad Fawait ditunjukkan ke publik sejak mereka dilantik. Konflik itu menjadi api dalam sekam.

Kini Wabup Djoko Susanto melaporkan Bupati Fawait ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia mengaku kesal karena merasa diabaikan selama enam bulan terakhir dalam menjalankan fungsi dan tugas sebagai wakil bupati. Ia minta KPK melakukan pembinaan dan pengawasan agar tata kelola pemerintahan di Jember berjalan bersih sesuai aturan.

Dikutip CNN, Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan laporan wakil bupati Jember tersebut. Menurut Budi, laporan tersebut terkait koordinasi supervisi.

Sementara Bupati Jember Muhammad Fawait belum memberikan respons terkait laporan wakil bupatinya itu.

Sebelumnya konflik keras juga terjadi pada Bupati dan Wakil periode 2018 – 2023. Yaitu antara Bupati Anna Mu’awanah dan Wakilnya, Budi Irwanto. Wabup Wawan – panggilan akrab Budi Irwanto – bahkan sempat melaporkan Bupati Mu’awanah kepada polisi dengan alasan pencemaran nama baik.

Di Jawa Timur konflik bupati dan wakil bupati memang banyak. Hanya saja konflik itu umumnya tak mencuat ke publik secara vulgar. Artinya, konflik bupati dan wakil bupati membara tak ubahnya api dalam sekam. Tapi belakangan tren konflik secara terbuka bupati dan wakil bupati mulai menjadi tren.

Nah, dalam konteks ini tesis Arif Afandi, wartawan senior, sangat relevan dikemukakan. Seperti diberitakan BANGSAONLINE, Arif Afandi yang juga pernah menjadi wali kota Surabaya itu menulis tesis tentang hubungan kepala daerah dan wakilnya. Tesis yang dibuat untuk persyaratan lulus S2 di Unair itu menyebutkan bahwa rata-rata bulan madu atau keharmonisan kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lama 6 bulan. 

Setelah itu mereka konflik sampai akhir jabatan. Dan itulah yang banyak terjadi selama ini hingga sekarang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO