Para siswa saat mengikuti Apel Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). (Ist)
KOTA KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Pemerintah Kota Kediri melalui DP3AP2KB menggelar Apel Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) bertajuk Cegah Stunting Sedini Mungkin yang diikuti oleh kepala sekolah, guru, hingga murid di Halaman SMPN 8 Kediri, Jumat (29/8/2025).
“Sekolah Siaga Kependudukan merupakan program dari Kemendukbangga/BKKBN yang menjadi jembatan penting antara pendidikan formal dan kesadaran akan pentingnya isu-isu kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga. Apel ini sebagai bentuk komitmen atau tonggak dimulainya kegiatan SSK di masing-masing sekolah,” ungkap Kepala DP3AP2KB, Arief Cholisudin Yuswanto, selaku pemimpin apel SSK.
BACA JUGA:
- Tingkatkan Literasi Kesehatan Anak, Cargill dan Dinkes Gresik Gelar Forum di Desa Pegaden
- Program Pengentasan Stunting, Pj Wali Kota Kediri Serahkan Bantuan Cadangan Pangan Pemerintah
- Cegah Stunting Balita, Pemdes Boboh Gresik Gelar Lomba Sajian Makanan Sehat
- Berbagai Kebahagiaan di LKSA Sahhala, ini Cara Pemkot Kediri Peringati Hari Anak Nasional 2024
Sebagai wujud keseriusan dan komitmen dalam menyiapkan Sekolah Siaga Kependudukan ini, Pemkot Kediri telah menerbitkan SK Wali Kota Kediri bagi semua SMP Negeri se-Kota Kediri.
“Kita tidak hanya mengendalikan secara kualitas tapi kuantitasnya harus kita jaga. Saya berharap SMPN 8 dapat mengambil peran sebagai agen perubahan bagi siswa-siswanya dengan mengimplementasikan SSK dengan baik,” jelasnya.
Ditambahkan Arief, SSK nantinya akan diterapkan di semua jenjang Pendidikan, mulai PAUD, SD, SMP hingga SMA dengan materi yang berbeda. Caranya dengan mengintegrasikan materi kependudukan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, bukan sebagai kurikulum atau mata pelajaran baru. SSK juga dapat berkolaborasi dengan program lainnya seperti Genre, PIK-R, pramuka, Gerakan Sekolah Sehat, Sekolah Ramah Anak, Sekolah Adiwiyata, dan program-program lainnya.
“Ini membutuhkan kreatifitas, inovasi dari Bapak/Ibu guru untuk bisa menangkap isu-isu di luar materi pelajaran. Isu utama yang menjadi tantangan remaja saat ini adalah tentang pergaulan bebas, narkoba dan perkawinan anak usia dini, masalah bullying, stunting, dsb. Isu-isu tersebut jika dibiarkan akan menghambat pembangunan, padahal Indonesia akan memetik bonus demografi di tahun 2045 mendatang,” papar Arief.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




