Benarkah Pesantren Tidak Relevan dan Pelajaran Agama Harus Dihapus?

Benarkah Pesantren Tidak Relevan dan Pelajaran Agama Harus Dihapus? Khariri Makmun. Foto: dok. priabadi

Kesembilan, keberhasilan dalam mencetak SDM unggul bisa dilihat dari jejak alumni mereka di berbagai sektor. Banyak santri menjadi menteri, diplomat, rektor, penulis, aktivis, pengusaha, bahkan ilmuwan. Lihat jajaran tokoh nasional seperti KH. Abdurrahman Wahid, KH. Ma’ruf Amin, KH. Hasyim Muzadi semuanya berlatar . Bahkan sejumlah bupati, gubernur, hingga pejabat tinggi negara berakar dari . Apakah mereka tidak relevan?

Kesepuluh, negara yang besar bukan hanya negara yang teknologinya maju. Tapi negara yang punya ruh, punya jiwa, punya akar budaya. Pendidikan agama—termasuk —adalah penopang utama dalam membangun ruh kebangsaan itu. Ketika Jepang bangkit pasca-Perang Dunia II, bukan teknologi yang lebih dulu dibangun, tapi pendidikan karakter. Ketika Amerika menghadapi krisis sosial, mereka kembali pada pendidikan etika. Jadi, argumen bahwa pendidikan agama tidak punya kontribusi dalam pembangunan adalah ahistoris.

Kesebelas, juga memainkan peran penting dalam pembangunan desa dan kawasan pinggiran. Banyak menjadi pusat pemberdayaan ekonomi, pusat pelayanan kesehatan, bahkan pusat mitigasi bencana. Mereka terhubung langsung dengan masyarakat bawah dan memahami kebutuhan riil rakyat. Sementara banyak kampus elite justru sibuk berteori dan jauh dari praktik sosial.

Keduabelas, kritik terhadap juga gagal membaca konteks geopolitik dan identitas kebangsaan Indonesia. Bangsa ini tidak dibangun dengan semata-mata akal rasionalistik Barat. Indonesia tumbuh dari perpaduan antara spiritualitas Timur dan rasionalitas modern. Dan adalah simpul penting dari integrasi ini. Menyingkirkan dari sistem pendidikan nasional, sama dengan mencabut akar kultural bangsa ini.

Ketigabelas, pendidikan agama bukan sekadar pengajaran dogma. Ia adalah pengajaran nilai. Di tengah zaman di mana manusia gampang menjadi zombie digital, terasing dari nilai-nilai luhur, maka tetap menawarkan oase: ajaran hidup bermakna, relasi yang hangat, hidup sederhana tapi bernilai. Ini adalah keunggulan yang tidak bisa direplikasi oleh sistem pendidikan berbasis algoritma dan gawai semata.

Keempatbelas, jika SDM unggul adalah SDM yang bisa berpikir kritis, punya empati sosial, mampu hidup dalam komunitas, tahan banting, dan punya visi hidup, maka adalah tempat yang tepat. Santri hidup dalam komunitas heterogen, belajar memimpin dalam kelompok, mengelola konflik, mematuhi aturan, dan tetap produktif dalam kondisi sederhana. Ini adalah kompetensi sosial yang langka dan sangat dibutuhkan dunia kerja modern.

Kelima belas, anggapan bahwa jurusan-jurusan seperti tafsir dan hadis tidak relevan, menunjukkan ketidaktahuan akan pentingnya ilmu-ilmu itu. Tafsir dan hadis adalah ilmu hermeneutika tingkat tinggi yang menuntut logika tajam, bahasa yang kuat, dan kemampuan kritik teks. Para ahli tafsir bukan orang sembarangan. Mereka punya kemampuan berpikir sistemik dan metodologis yang bisa diaplikasikan di berbagai bidang. Bahkan kemampuan ini bisa diterjemahkan ke dalam bidang riset, kebijakan publik, hingga analisa sosial.

Keenam belas, banyak juga menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga riset, perguruan tinggi, NGO, bahkan lembaga internasional. Mereka tidak anti terhadap modernitas. Mereka hanya menempatkan agama sebagai orientasi moral, bukan sebagai penghambat kemajuan. Justru dengan basis nilai ini, kemajuan yang dicapai akan lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Ketujuh belas, Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada teknokrat. Negara ini butuh negarawan, ulama, guru bangsa. Dan semua itu tumbuh dari ekosistem yang memberi ruang kontemplasi, nilai, dan kedalaman spiritual. Pesantren adalah inkubator dari sosok-sosok seperti ini. Mencabut dari sistem pendidikan sama saja dengan membunuh masa depan kepemimpinan moral bangsa.

Kedelapan belas, dalam era disrupsi informasi, juga mulai memanfaatkan teknologi untuk dakwah, pembelajaran daring, dan transformasi digital lainnya. Banyak santri kini mahir membuat konten edukatif, menulis opini kritis, mengembangkan aplikasi islami. Mereka adaptif dan tidak gagap teknologi. Mereka hanya punya cara pandang yang tidak menuhankan teknologi.

Kesembilan belas, argumen yang mengatakan bahwa pendidikan agama dan tidak dibutuhkan SDM negara hanyalah ilusi dari mentalitas yang terlalu memuja sains tapi miskin nilai. Yang dibutuhkan bangsa ini bukan hanya otak encer, tapi juga hati yang lapang. Bukan hanya kecanggihan, tapi juga kearifan. Dan semua itu, bisa tumbuh dari .

Kesimpulannya, tuduhan bahwa tidak relevan hanyalah bias modernisme sekuler yang gagal membaca kekayaan sistem pendidikan bangsa ini. Pesantren bukan musuh kemajuan. Ia adalah pondasi bangsa. Ia bukan beban negara. Ia adalah modal sosial dan spiritual yang tak ternilai. Maka, tugas kita bukan melemahkan , apalagi menghapus pendidikan agama, tapi justru memperkuat, memodernisasi, dan mengintegrasikannya ke dalam sistem pembangunan nasional.

*Penulis adalah Pengasuh , Ciaiwi, Bogor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Gara-Gara Hasil Cukur Tak Sesuai Harapan, Tukang Cukur di Bogor Nyaris Dibacok Pelanggannya':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO