Khariri Makmun. Foto: ist
Sambutan ini bukan sekadar pengantar seremonial, melainkan semacam khutbah kebangsaan yang meneguhkan kembali arah moral perjuangan politik PKB. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan hanyalah wasilah, bukan tujuan. Tujuan utamanya adalah perbaikan, kemaslahatan, dan keadilan sosial. Kyai Ma’ruf menutup sambutannya dengan doa agar PKB tetap istiqamah sebagai partai yang merawat bangsa dengan hati, menjaga negeri dengan ilmu, dan memperjuangkan keadilan dengan nurani.
Tepuk tangan kembali menggema, bukan sekadar sebagai penghormatan, tapi sebagai tanda bahwa suara seorang kiai, bila jujur dan tajam, masih punya kekuatan untuk menggugah nurani politik bangsa.
Setelah sambutan Ketua Dewan Syuro, Gus Muhaimin tampil sebagai Ketua PKB sekaligus tuan rumah yang penuh antusia, semangat dan kebahagiaan. Aura kebanggaan dan optimisme jelas terpancar dari wajahnya. Ia menyambut para tamu dengan hangat, menyampaikan pidato yang mencerminkan betapa strategisnya momen ini bagi masa depan bangsa. Hajatan politik besar yang dirancang untuk memperkuat simpul-simpul kebangsaan — antar partai, antar elemen masyarakat, dan antar kekuatan sosial-politik nasional — berjalan dengan sangat sukses. Acara ini menjadi bukti bahwa PKB mampu menjadi poros penting dalam merawat keindonesiaan yang inklusif, kuat, dan progresif.
Dalam pidatonya, Gus Muhaimin secara tegas menyampaikan apresiasinya terhadap arah kebijakan Presiden Prabowo di awal masa pemerintahannya. Ia menyebut bahwa langkah-langkah terobosan yang diambil pemerintah, seperti Program Makan Bergizi Gratis, merupakan wujud nyata dari politik kehadiran negara di tengah rakyat. Program ini, menurut Gus Muhaimin, bukan hanya menjawab kebutuhan gizi anak-anak bangsa, tapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh menghadapi tantangan global.
Gus Muhaimin juga menyoroti program Sekolah Rakyat sebagai bentuk pembebasan struktural dari ketimpangan akses pendidikan. Ia menegaskan bahwa inilah saatnya bangsa Indonesia masuk ke babak baru pembangunan: tidak sekadar mengejar angka pertumbuhan, tapi memperjuangkan keadilan sosial yang merata. “Kami di PKB yakin, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, kita akan melihat transformasi besar dalam pola pembangunan nasional. PKB siap membersamai pemerintah dalam mengawal dan merealisasikan agenda-agenda strategis tersebut demi terwujudnya cita-cita besar Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Mewujudkan Kedaulatan Ekonomi Nasional Melalui Amanat Pasal 33
Harlah PKB selanjutnya memberi waktu khusus kepada Presiden RI ke-8 untuk menyampaikan sambutan dan arahan. Saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-27 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Presiden Prabowo Subianto menunjukkan gestur yang tidak biasa: santai, hangat, dan penuh kedekatan emosional. Pidatonya tidak sekadar formalitas kenegaraan, tetapi mengalir seperti obrolan seorang anggota keluarga besar yang telah lama saling mengenal dan memahami. Di hadapan para kader PKB dan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Presiden Prabowo menyampaikan perasaannya dengan lugas bahwa ia merasa sangat nyaman berada di tengah-tengah mereka. Bagi Prabowo, momen tersebut bukan sekadar agenda politik, tetapi lebih menyerupai reuni keluarga besar yang sarat makna historis dan emosional.
Prabowo tidak hanya menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan PKB terhadap pemerintah dan komitmennya pada konstitusi, tetapi juga menegaskan kedekatannya secara pribadi dengan NU dan PKB. Kedekatan itu bukan baru tumbuh sekarang, tetapi telah terjalin sejak lama, termasuk dalam hubungannya dengan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tokoh NU dan pendiri PKB. Rasa nyaman itu tercermin dari nada bicara Prabowo yang penuh apresiasi dan kekaguman terhadap kontribusi NU dan PKB dalam sejarah kebangsaan Indonesia, terutama dalam menjaga stabilitas di masa-masa kritis bangsa. Bagi Prabowo, NU dan PKB bukan hanya sekutu politik, tapi bagian dari elemen penyangga moral dan spiritual bangsa.
Pidato Prabowo malam itu juga menggambarkan kesamaan pandangan yang ia miliki dengan para tokoh PKB dan NU, terutama dalam hal prinsip ekonomi kerakyatan sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945. Ia menyebut bahwa pemikiran KH Ma'ruf Amin sangat mengena dan menyentuh inti persoalan bangsa. Dalam suasana harlah tersebut, Prabowo seperti sedang mematri ulang komitmen ideologisnya bersama PKB dan NU dalam membangun Indonesia yang adil, sejahtera, dan berdaulat. Lebih dari sekadar panggung politik, acara tersebut menjadi ruang konsolidasi batin dan nilai antara pemimpin nasional dan kekuatan Islam moderat yang telah lama menjadi bagian penting dari perjalanan republik ini.
Suasana harlah PKB malam itu pun terasa berbeda dari perayaan politik pada umumnya. Riuh tepuk tangan dan sorak sorai para kader bukan sekadar sambutan atas pidato presiden, melainkan ekspresi emosional dari sebuah perjumpaan batin yang langka. Ketika Prabowo menyebut dirinya merasa “seperti di rumah sendiri”, bukan basa-basi politik yang berbicara, tapi bahasa jiwa yang menemukan kembali tempatnya. Seolah sejarah yang dulu sempat retak kini sedang dijahit kembali oleh kesadaran bersama bahwa bangsa ini butuh kolaborasi, bukan kompetisi yang saling meniadakan. Kehadiran Prabowo tidak hanya sebagai kepala negara, tapi juga sebagai seorang saudara yang kembali pulang ke pangkuan keluarga besar yang memahaminya sejak awal.
Tak dapat disangkal, malam itu terasa seperti titik balik penting bagi arah politik kebangsaan Indonesia. Panggung harlah PKB menjelma menjadi altar persatuan baru, tempat dimana pesan-pesan kenegaraan dibalut nuansa kekeluargaan dan spiritualitas. Di hadapan para kiai, santri, dan aktivis partai, Prabowo bukan sekadar berbicara tentang rencana pemerintahan, tapi tentang semangat gotong royong yang sudah lama menjadi roh bangsa ini. Aura haru dan optimisme menyelimuti ruangan, seolah seluruh yang hadir sedang menyaksikan babak baru dari rekonsiliasi sejarah dan tekad bersama untuk menjaga Indonesia tetap utuh, kuat, dan bermartabat di tengah arus global yang kian deras dan tak menentu.[]
*Penulis adalah Direktur Moderation Corner, Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






