Sementara itu, Direktur British Council Indonesia, Summer Xia, mengapresiasi kerja sama multilateral yang terjalin dalam seminar ini. Ia menyebut bahwa kerja kolaboratif sangat dibutuhkan untuk menciptakan sistem pendidikan tinggi yang adil dan inklusif.
“Kami di British Council sangat senang bisa mendukung kolaborasi antara UNU Yogyakarta, Unusida, dan University of the West of England melalui hibah Going Global Partnership,” ujar Summer Xia. “Acara ini bukan hanya menjadi ruang berbagi wawasan, tapi juga momentum mengembangkan solusi nyata untuk pendidikan yang lebih berkeadilan bagi semua,” tambahnya.
Dalam sesi utama, Tariq Umar, Ph.D. dari UWE Bristol menekankan bahwa inklusi tidak boleh dipahami hanya sebagai upaya membantu difabel menyesuaikan diri dengan sistem yang ada.
“Inklusi bukanlah sekadar strategi untuk membantu orang menyesuaikan diri dengan sistem dan struktur yang ada. Ini tentang mengubah keduanya untuk menghasilkan hasil yang lebih baik bagi semua orang,” ujarnya.
Setelah sesi utama, seminar dilanjutkan dengan diskusi paralel bertema 'Peluang dan Tantangan Pendidikan Inklusif di Indonesia'. Diskusi ini menghadirkan para pemangku kepentingan terkemuka seperti:
- Dr. Ana Christanti, M.Pd. (Wakil Rektor 2 UNUSIDA)
- Dr. Suhadi Cholil, M.A (Wakil Rektor UNU Yogyakarta)
- Soelistiyowati (Ketua Perempuan Difabel Indonesia, Jawa Timur)
- Kikin P. Tarigan S., S.P., M.M. (Komisioner Nasional Disabilitas RI)
Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) terbatas yang melibatkan 15 peserta undangan. FGD ini bertujuan memperkuat rekomendasi serta menyusun roadmap untuk pengurangan kesenjangan akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas di Indonesia. (cat/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




