Sampah menumpuk di depan rumah salah satu warga Jalan Kedung Soroko Surabaya. Foto: bangsaonline
Jadi, jalan raya di Singapura sangat mulus, tak ada lubang. Bahkan di sana ada petugas yang secara mendeteksi atau memplototi lubang di jalan raya. Saya pernah menginap di apertemen orang Bawean yang kerja di Singapura. Saya tanya kerja apa. Dia jawab tiap hari bersepeda onthel atau sepeda pancal menyusuri jalan raya untuk mencari lubang di jalan raya. Kalau dia menemukan lubang di jalan raya dia langsung lapor ke atasannya dan seketika itu juga diperbaiki.

(Jalan raya di Maroko tampak sangat bersih dan lancar. Ini foto di jalan raya sekitar benteng Kasbah des Oudaias Kota Rabat Maroko. Foto: M Mas'ud Adnan/bangsaonline.com)
Kalau di Surabaya, mohon maaf, lubang di jalan raya itu gak perlu dicari. Hampir semua jalan raya banyak lubangnya.
Saya juga pernah ke Maroko. Kota-kota di sana sangat bersih dan indah. Di Maroko sampah tak boleh lebih dari tiga jam berada di depan rumah.
Tak aneh, jika semua penjuru kota di Maroko sedap dipandang. Mulai dari airport hingga ke kota-kota di Maroko terlihat pemandangan sangat bersih dan indah. Tak ada sampah ngendon berhari-hari seperti di kota Surabaya.
Saya berharap Wali Kota Surabaya, Pak Eri Cahyadi lebih detail lagi dalam memimpin Kota Pahlawan ini. Yang perlu diingat, Pak Eri Cahyadi tinggal lima tahun mimpin Kota Surabaya.
Idealnya seorang wali kota atau kepala daerah punya legacy yang monumental sehingga kelak tetap dikenang oleh warga Surabaya. (M.Mas'ud Adnan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




