Khofifah Indar Parawansa foto bersama narasumber dalam forum Pascasarjana Unair bertajuk Deep Talks! Menjadi Kepala Daerah Idaman 2024 di Pascasarjana Unair, Surabaya, Sabtu (14/9/2024). Foto: istimewa
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Khofifah Indar Parawansa tampil dalam forum Pascasarjana Unair, Sabtu (14/9/2024). Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU itu menjadi narasumber dalam forum Pascasarjana Unair bertajuk Deep Talks! Menjadi Kepala Daerah Idaman 2024 di Pascasarjana Unair, Surabaya.
Ketua Umum IKA Unair itu menjabarkan tentang pentingnya menjadi transformational leader atau pemimpin transformatif di era yang penuh dengan tantangan dan dinamika seperti saat ini.
BACA JUGA:
- WFH ASN Jatim Bergeser ke Jumat Mulai Juni, Gubernur Khofifah: Ikuti Arahan Mendagri
- Pecel Masuk 10 Besar Salad Terbaik Dunia, Khofifah: Bukti Kuliner Jatim Mendunia
- Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 2026, Gubernur Khofifah Hadir di Layanan Kegiatan Jawara
- Laksanakan Sholat Idul Adha di Al Akbar, Gubernur Khofifah Serahkan Kurban dari Presiden Prabowo
Menurut Khofifah, menciptakan transformasi bisa dilakukan jika seseorang pemimpin memiliki kemampuan untuk menemukan equilibrium dinamic di tengah dinamika yang ada di lingkungannya. Dengan terwujudnya keseimbangan baru itu, maka seorang pemimpin akan mampu menciptakan suasana transformatif yang kondusif dan produktif.
“Di setiap rapat bersama kepala OPD, saat bicara bersama kepala ormas-ormas atau forum yang mengundang saya, saya selalu mengajak mereka untuk menjadi transformational leader,” kata Khofifah.
“Karena kita memang hidup dalam era yang begitu dinamis. Maka kondisi mencapai equilibrium dinamic itu penting. Dan itu butuh perspektif dan butuh daya rekat di antara semuanya agar timbul rasa saling memahami, saling percaya dan saling menghormati,” imbuhnya.
Equilibrium dinamic sangat dibutuhkan terutama agar tercipta kerja sama yang harmoni dengan semua lini. Hal itu penting dibangun agar terjadi kesepahaman, persamaan persepsi, dan juga kesamaan visi. Dan mewujudkannya tidak bisa hanya dilakukan oleh satu orang saja. Melainkan pemimpin harus membentuk super team.
“Tidak bisa kerja sendiri-sendiri, harus dibangun super team. Misalnya di sektor pertanian ada super team sendiri, kemudian di sektor peternakan ada sendiri. Dan seterusnya. Mereka harus sama-sama membangun kolaborasi yang substantif,” ujarnya.
Khofifah juga menjelaskan bahwa selama memimpin Jawa Timur ia sering turun ke lapangan, bersama dengan para frontliner di sektor layanan publik.
Ia turun langsung mengecek bagaimana layanan publik dijalankan. Misalnya di layanan pajak kendaraan di Samsat maupun di kantor pelayanan perizinan dan investasi.
“Selalu saya mencoba untuk tanya mereka dan juga melihat data. Kan di sana juga ada indikator kepuasan layanan, apakah masyarakat puas atau tidak puas, tidak puasnya karena apa selalu saya lihat untuk perbaikan ke depan. Dan alhamdulillah di samsat kita indeks kepuasannya sampai 97 persen lebih,” tegas wanita yang juga mantan Menteri Sosial ini.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




