Ir Soekarno dan Paus Pius XII
Soegijapranata melalui sebuah pidato di Radio Republik Indonesia (RRI), menyatakan orang-orang Katolik akan bekerja sama dengan pejuang Indonesia. Masa-masa itu, Soegijapranata juga tercatat banyak menulis kepada Tahkta Suci.
Di bawah kepemimpinan Paus Pius XII, Vatikan dengan cepat menyadari pentingnya stabilitas dan kedamaian di Asia Tenggara pasca-Perang Dunia II. Paus Pius XII mengutus Georges Marie Joseph Hubert Ghislain de Jonghe d'Ardoye, seorang diplomat Vatikan, sebagai duta besar Vatikan untuk Indonesia yang pertama.
Marie Joseph menjabat dari 1947 hingga 1955, dan selama masa tugasnya, ia berperan sebagai perantara penting. Antara Takhta Suci Vatikan dan pemerintah Indonesia yang saat itu baru terbentuk.
Meskipun Vatikan secara geografis kecil, pengaruhnya dalam urusan internasional sangat besar. Terutama melalui jaringan Gereja Katolik yang luas dan pengaruh moral yang kuat di berbagai negara.
Pengakuan Vatikan terhadap kemerdekaan Indonesia tidak hanya memberikan dukungan moral. Tetapi juga membuka pintu bagi negara-negara lain di Eropa dan Amerika untuk mengikuti jejak Vatikan dalam mengakui kedaulatan Indonesia.
Dukungan ini menjadi sangat penting, mengingat Indonesia pada saat itu masih berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari negara-negara Barat. Pengakuan dari Vatikan memberikan legitimasi tambahan bagi Indonesia di mata dunia, terutama di kalangan negara-negara yang berpengaruh dalam blok Barat.
Keputusan Vatikan untuk mengakui kemerdekaan Indonesia didasarkan pada kesamaan prinsip yang dianut oleh kedua negara.
Vatikan dan Indonesia sama-sama mendukung perdamaian dunia, menolak atheisme, dan mempromosikan kerukunan antarumat beragama.
Selain itu, kedua negara memiliki komitmen terhadap keadilan sosial dan kesejahteraan umat manusia.
Prinsip-prinsip inilah yang menjadi dasar hubungan diplomatik yang kuat antara Vatikan dan Indonesia.
Pengakuan ini juga mencerminkan keprihatinan Vatikan terhadap penjajahan dan penindasan yang dialami oleh bangsa-bangsa di Asia, termasuk Indonesia. Paus Pius XII, yang dikenal sebagai pemimpin vokal dalam mendukung hak asasi manusia dan kebebasan, melihat kemerdekaan Indonesia sebagai langkah penting menuju perdamaian dan stabilitas global.
Karenanya, kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia selama tiga hari 3-6 September 2024 ini diharapkan kian memperkuat hubungan bilateral yang telah dibangun selama hampir delapan dekade. Serta menjadi simbol kerukunan antarumat beragama dan dukungan berkelanjutan dari Vatikan terhadap upaya perdamaian dan keadilan global.
Secara luas, kunjungan Paus Fransiskus juga mencerminkan peran aktif Vatikan dalam dialog antaragama dan kerja sama internasional. Terutama di wilayah yang memiliki keragaman agama dan budaya tinggi seperti Indonesia.
Sebagai pemimpin spiritual yang dihormati di seluruh dunia, kunjungan Paus Fransiskus juga diharapkan dapat membawa pesan perdamaian dan solidaritas yang kuat. Sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarumat beragama. (van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




