Monumen Knalpot Brong yang akan dibangun menjadi ikon Kota Surabaya.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Satlantas Polrestabes Surabaya akhirnya membangun tugu knalpot Suroboyo, yang terbuat dari knalpot brong hasil pengamanan di beberapa wilayah di Kota Pahlawan.
Monumen ini, dibuat sebagai pengingat bagi masyarakat, agar tidak menggunakan knalpot brong yang meresahkan masyarakat. Selain itu, monumen ini, dibuat seperti ikon Kota Surabaya, yaitu Suro dan Boyo.
BACA JUGA:
- Lecehkan Gadis yang Nonton Surabaya Vaganza, Pria di Surabaya Diamankan Dalam Kondisi Babak Belur
- Pasca-Kebakaran Gedung Jantung RSUD Dr. Soetomo, Polisi Gelar Olah TKP, Pasien IGD Masih Trauma
- Terungkap! Diduga Gelapkan Uang Pinjol Jadi Motif Penusukan Satpam di Graha DST Surabaya
- Ngaku Tak Tahan Nafsu, Pria di Surabaya Tega Setubuhi Putri Kandung yang Berusia 17 Tahun Sejak 2025
Knalpot itu, berasal dari penindakan yang dilakukan oleh Satlantas Polrestabes Surabaya dengan jumlah yang tidak sedikit. Terlebih, saat itu, razia dilakukan saat malam pergantian tahun.
“Sebenarnya Knalpot hasil sitaan akan dimusnahkan, namun kami berpikir untuk bisa dimanfaatkan,” ungkap Kasatlantas Polrestabes Surabaya, Arif Fazlurrahman, Kamis (20/6/2024).
Justru, kasatlantas ini, terpikir untuk mengoptimalkan sehingga menjadi salah satu ikon di Kota Surabaya.
"Lebih bermanfaat daripada hanya sekedar dimusnahkan," tambahnya.
Ide tersebut, ia sampaikan ke jajarannya, ternyata salah satu anggota kebetulan mengenal perajin di Tuban yang bisa mewujudkan keinginan tersebut. Bentuk monumen itu, diminta agar sama dengan patung Suro dan Boyo.
Arif mengatakan, jumlah knalpot yang tersimpan di gudang, mencapai 2.064 buah. Knalpot itu, disita sejak Januari 2023.
"Dimana 1.348 di antaranya disita pada periode Desember," tambah Arif Fazlurrahman.
Ia juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Surabaya, dalam pembuatan monumen itu, agar bisa ditempatkan di lokasi strategis. Dengan harapan, nantinya bisa menjadi ikon baru di Surabaya.
Monumen itu, awalnya akan diletakkan di Jalan Tunjungan, namun dengan pertimbangan jalan tersebut sudah menjadi landmark metropolis, serta setelah dilakukan pengecekan, area tersebut, tidak memingkinkan karena terdapat utilitas yang sulit digunakan sebagai pondasi.
Pondasi itu, menurut Arif sangat penting, karena keberadaan tidak boleh mengabaikan faktor keamanan.
"Monumennya berat sekali karena dari besi. Menurut perajinnya sekitar dua ton," paparnya. "Tinggi 10 meter dan lebar 3 meter," sambungnya.
Dari diskusi itu, tempat baru bagi monumen akhirnya diputuskan di kawasan Frontage Jalan A. Yani.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




