Buku Bahasa Jawa Berbau Pornografi juga Beredar di Nganjuk

Buku Bahasa Jawa Berbau Pornografi juga Beredar di Nganjuk Kabid TK/SD/PLB, Sony, menunjukan buku yang berisikan pronografi. (foto: soewandito/BANGSAONLINE)

Menurut Sony, buku mulok Bahasa Jawa itu bukan merupakan buku wajib yang harus dimiliki semua SD di Kabupaten Nganjuk. Namun pihak sekolah tetap punya peluang untuk membeli dan mengedarkannya kepada siswa.

Sebagai antisipasi awal, kata Sony, pihaknya sejak beberapa hari lalu sudah menyebar instruksi kepada sekolah yang menggunakan buku tersebut, untuk segera melakukan penarikan. “Kalau ditemukan akan langsung kami tarik,” ujarnya.

Selebihnya, Sony menyebut secara pribadi sudah pernah melihat dan membaca isi materi buku tesebut. Dia juga mengakui memang ada salah satu materi bacaan yang sanga kental muatan . “Tidak cocok untuk siswa SD,” tukasnya.

Penelusuran di lapangan menyebut, buku Wasis Basa kelas VI tersebut diperkirakan sudah beredar luas sejak tahun 2009. Distributor mengedarkan buku tersebut lewat UPTD Pendidkan TK/SD/PLB di sejumlah kecamatan di Nganjuk. Sebagian lain, langsung mendatangi sekolah. Namun demikian, distributor tetap harus membawa rekomendasi dari kepala UPTD Pendidikan setempat.

Di dalam buku tersebut, terdapat sejumlah kalimat yang merujuk pada istilah hubungan suami-istri. Salah satunya terdapat pada materi bacaan Bahasa Jawa berjudul Dewi Lara Amis, yang menceritakan kisah seorang laki-laki yang mencintai perempuan. Beberapa istilah yang dianggap vulgar terdapat pada paragrap akhir, seperti berikut,

“Ing sawijining dina Prabu Basuparicara tindak mbebedhag menyang tengahing alas. Dumadakan Sang Prabu kelingan marang garwane Dewi Girika sing sulitya ing warna. Sang Prabu ora bisa nahan hawa nepsu kasmarane, banjur ngetokne banyu syahwat lan diwadahi godhong, banjur dibuwang ing kali Yamuna. Banyu syahwat mau dipangan dening sawenehe iwak wadon gedhe sing manggon ing kali kasebut. Ora let suwe iwak mau banjur meteng. Iwak mau sejatine malihane widodari sing lagi nglakoni paukuman saka Jawata.”

Pasa suatu hari, Prabu Basuparicara berburu di tengah hutan. Tiba-tiba, Sang Prabu teringat kepada istrinya Dewi Girika yang cantik jelita. Sang Prabu tidak bisa menahan hawa nafsu birahinya, hingga mengeluarkan air mani dan ditaruh dalam daun, kemudian dilempar ke sungai Yamuna. Air mani tadi dimakan oleh seekor ikan besar yang berada di sungai tersebut. Tidak terlalu lama, ikan tadi hamil. Ikan tadi sebenarnya penjelmaan dari seorang bidadari yang mendapat hukuman dari Dewa. (dit/rvl)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO