Kadin Jatim Ajak Pengusaha Berinvestasi di Proyek Pengembangan Terminal Bungurasih

Kadin Jatim Ajak Pengusaha Berinvestasi di Proyek Pengembangan Terminal Bungurasih Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Kadin Jatim, M Turino Junaedy (Kanan), bersama Ketua Komite Tetap Perencanaan dan Pengembangan Kawasan, Fitrajaya Purnama.

“Pembangunan proyek-proyek infrastruktur terminal ini sangat penting bagi masyarakat untuk mendukung mobilitas manusia serta mobilitas barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya, serta memperlancar distribusi rantai pasok. Keberadaan terminal-terminal yang modern, juga sangat diperlukan sebagai pusat kewirausahaan atau UMKM," ucap Arsyad.

"Diharapkan terminal-terminal ini bukan hanya sekadar terminal kendaraan, tapi juga tempat perkantoran, dan transaksi barang dan jasa, serta menarik menjadi tempat pertemuan banyak orang,” kata Arsyad.

Menurut dia, keberhasilan proyek-proyek terminal tipe A ini akan menjadi contoh bagi proyek-proyek infrastruktur terminal di daerah-daerah lain. Dengan demikian, antara satu wilayah dengan wilayah lainnya dapat terkoneksi dengan baik dan ekonomi dapat terus tumbuh dari bawah.

“Kadin Indonesia, sebagai mitra sejajar pemerintah dan sesuai dengan Visi dan Misi Kadin Baru Yang Inklusif dan Kolaboratif, akan senantiasa menggandeng Pemerintah serta pelaku Usaha dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah membangun proyek infrastruktur demi memperkuat mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” urai Arsyad.

Sementara itu, Tenaga Ahli KPBU, Arianto Wibowo, yang juga menjabat sebagai Team Leader Proyek KPBU Terminal Tipe A dan Betan Subing mengatakan bahwa proyek pengembangan terminal itu merupakan investasi yang sangat menjanjikan karena pasarnya jelas dan cukup besar.

Saat ini, kata Arianto, jumlah bus yang keluar-masuk ke sangat banyak. Untuk bus jenis Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) mencapai 320.000 unit per tahun dengan jumlah penumpang mencapai 8 juta orang, sedangkan bus jenis Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) mencapai 740.000 unit bus dengan jumlah penumpang hampir 18 juta orang.

“Selain itu juga masih ada bus kecil antar kota. Jumlahnya juga cukup banyak. Ini suatu hal yang sangat menjanjikan,” tuturnya.

Dalam perkembangannya, lanjut Arianto, fungsi terminal akan diperluas. Selain tetap menjadi simpul transportasi, pengembangan terminal juga didorong untuk lebih efektif efisien dan sustainable sehingga konsep pengembangan Terminal Tipe A melalui “mixed use project” atau proyek serbaguna.

“Kalau sekarang ada warung dalam terminal, bisa jadi besok ada terminal nempel di mall. Mixed used itu akan lebih besar dari terminal itu sendiri. Pada kebijakan Kemenhub di masa mendatang, terminal akan diarahkan sebagai pusat kegiatan tumbuh sehingga pada akhirnya fungsi terminal itu sendiri akan menjadi fungsi kecil saja dari kegiatan mixed-used. Sehingga potensi pendapatan akan dimaksimalkan dari pengelolaan kegiatan mixed-used tersebut,” paparnya.

Adapun nilai Capex (Capital Expenditure/Belanja Modal) dalam pengembangan seluas 12 hektare ini diperkirakan mencapai Rp350 miliar, sedangkan nilai Opex (Operating Expenditure/Pembelanjaan Operasional) yang harus dikeluarkan tiap tahun mencapai Rp19 miliar dan Rp5 miliar per lima tahun dan nantinya investor akan mendapatkan konsesi selama 20 tahun. (nf/mar)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO