Kamis, 29 Juli 2021 08:33

​Buzzer, Radikalis Kristen vs Radikalis Islam

Senin, 17 Mei 2021 18:27 WIB
Editor: mma
​Buzzer, Radikalis Kristen vs Radikalis Islam
M Mas'ud Adnan. foto: BANGSAONLINE.COM

Oleh: M Mas’ud Adnan --- Munculnya buzzer dan influencer dalam media sosial (medsos) mengungkap realitas sosial keagamaan secara telanjang. Fenomena ini terlihat dari konten atau narasi yang diproduksi para buzzer dan influencer. Umpatan kasar, tak beretika, jauh dari akhlak dan peradaban berhamburan tiap hari memenuhi panggung medsos. Konsekuensinya, narasi-narasi barbar itu – diakui atau tidak – menjadi bagian gelap dari wajah masyarakat dan pemerintah kita saat ini.

Wajah pemerintah dan masyarakat kita? Ya. Karena hanya pada era sekarang ini peradaban mulia bangsa Indonesia diruntuhkan dan dijungkirbalikkan oleh segelintir orang yang mencari makan lewat umpatan dan menyakiti orang lain yang bernama buzzer dan influencer.

Faktanya, hingga sekarang, pemerintah – terutama kementerian komunikasi dan informatika Indonesia – tak berbuat apa-apa terhadap para perusak peradaban bangsa Indonesia itu.

Yang menarik, hampir semua pemeluk agama di Indonesia ambil bagian dalam buzzer dan influencer. Ini mudah dimaklumi, karena sebelum muncul medsos, mereka tak punya saluran untuk mengepresikan watak aslinya yang sejatinya juga barbar. Media-media resmi dan mainstream - seperti surat kabar dan majalah - jelas tak mau memuat konten-konten kasar tak beradab dan tak berimbang (cover both side). Sebab media-media tersebut terikat dengan kode etik jurnalistik yang menjunjung tinggi etika, moral, dan peradaban.

BACA JUGA : 

Pak Luhut Pelajari Covid-19 di Arosbaya Bangkalan! Dulu Neraka Kini Reda

Efektivitas PPKM Darurat, Menunggu Keajaiban Luhut BP?

Kenapa Tokoh Politik yang Didukung Buzzer Alami Degradasi Legitimasi?

Pemuda Muhammadiyah: Jangan Terseret Isu Buzzer Jatuhkan Krediblitas Gubernur Khofifah

Ada fenomena menarik dalam kasus buzzer dan influencer ini. Jika kita cermati, dari semua penganut agama itu tampaknya yang paling dominan adalah kelompok Kristen dan Islam. Kristen yang mengklaim ajarannya cinta kasih ternyata para buzzer Kristen sangat sadis dan raja tega. Begitu juga klaim kelompok Islam yang rahmatan lil'alamin. Para buzzernya sama sekali tak mencerminkan rahmat bagi semua alam.   

Maka wajar, jika mereka kita sebut radikalis Kristen vs Radikalis Islam. Karena dua kelompok radikal inilah yang paling banyak saling serang secara vulgar dan kasar.

Yang juga menarik, meski kelompok Kristen minoritas di Indonesia, tapi paling agresif menyerang kelompok Islam yang mayoritas. Bahkan artikel atau berita yang membahas masalah ibadah, tak terkait agama lain terutama Kristen, diserang oleh para radikalis Kristen.

Cermati saja konten mereka. Secara sadis dan keji mencerca dan mencaci figur-figur mulia seperti Nabi Muhammad SAW sebagai pedofil. Bahkan Allah SWT yang disucikan oleh umat Islam dihujat tanpa tedeng aling-aling.

Begitu juga sebaliknya. Para buzzer beragama Islam menghujat figur-figur yang disucikan oleh umat Kristiani. Tuhan kolor porno (hanya pakai celana dalam) tak berdaya adalah contoh olok-olok para buzzer beragama Islam kepada Yesus yang disalib.

Padahal tak ada satu pun “agama yang benar” – kecuali agama sesat – yang memperbolehkan pemeluknya mencaci figur mulia dan tuhan sesembahan agama lain.

Semua agama  – sekali lagi agama yang benar - pasti melarang pemeluknya mencaci agama lain, tuhan agama lain, dan nabi agama lain. Saya contohkan Islam. Dalam al-Quran Surat Al-An’am ayat 108 secara tegas Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan."

Tapi mengapa masih ada pemeluk agama mencaci agama lain, nabi atau figur suci agama lain bahkan tuhan agama lain?

Ada beberapa kemungkinan. Pertama, karena mereka tak paham tentang ajaran agama yang dianutnya. Atau karena doktrin dari gurunya yang juga dangkal ilmu pengetahuan agamanya.

Kedua, karena mereka menganut agama yang salah. Sebab seperti saya tegaskan di atas, tak ada satupun “ajaran agama yang benar” memperbolehkan mengolok-olok, menghina dan merendahkan tuhan agama lain.

Ketiga, faktor politik. Para aktor politik – atau pengikut aktor politik- cenderung menghalalkan segala cara, bahkan sadis dan raja tega. Jangankan agama orang lain, agama sendiri pun dijadikan alat untuk meraih tujuan politiknya. Mereka adalah kelompok mata hati gelap. Mereka tega melakukan apa saja demi mencapai tujuan politiknya, termasuk menista dan menjual agamanya sendiri.

Nah, tiga kelompok ini banyak memiliki piaraan buzzer dan influencer. Bahkan mereka sendiri adalah buzzer dan influencer.

Celakanya, para buzzer dan influencer itu memiliki media online yang tiap hari rajin memberitakan konten-konten para buzzer dan influencer itu.

Cermati saja media-media online yang rajin mengutip konten-konten para buzzer dan influencer. Media-media itu umumnya didirikan dan dibiayai oleh para buzzer dan influencer. Atau paling tidak, pengelolanya memiliki hubungan kepentingan dan emosional dengan para buzzer dan influencer itu.

Karena itu tak heran, jika konten dan narasi para buzzer dan influencer itu selalu sadis, menyakitkan orang lain, tanpa logika dan akal sehat. Karena tugas mereka hanya mengacau dan menjatuhkan semua orang yang tak sesuai kepentingan mereka.

M Mas'ud Adnan, alumnus Pesantren Tebuireng dan Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya

Warga Sambisari dan Manukan Kulon Menolak Sekolah Dijadikan Tempat Isolasi Pasien Corona
Senin, 26 Juli 2021 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Korban Covid-19 yang terus berjatuhan mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperluas tempat isolasi pasien yang sedang terpapar virus corona. Berbagai fasilitas gedung – termasuk sekolah – direncana...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Kamis, 15 Juli 2021 12:37 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*66. Qaala lahu muusaa hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaanMusa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajark...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...