Tafsir Al-Kahfi 61-64: Andai Android Zaman Musa A.S.

Tafsir Al-Kahfi 61-64: Andai Android Zaman Musa A.S. Ilustrasi

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaan

Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

62. falammaa jaawazaa qaala lifataahu aatinaa ghadaa-anaa laqad laqiinaa min safarinaa haadzaa nashabaan

Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”

63. qaala ara-ayta idz awaynaa ilaa alshshakhrati fa-innii nasiitu alhuuta wamaa ansaaniihu illaa alsysyaythaanu an adzkurahu waittakhadza sabiilahu fii albahri ‘ajabaan

Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”

64. qaala dzaalika maa kunnaa nabghi fairtaddaa ‘alaa aatsaarihimaa qashashaan

Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.

TAFSIR AKTUAL

Begitu tinggi semangat nabi Musa A.S. memburu guru spiritual yang ditunjuk Tuhan, hingga ikhlas menempuh perjalanan jauh dan berpayah-payah, padahal dia sudah meraih pangkat manusia yang paling tinggi. Yakni menjadi nabi utusan Tuhan.

Untuk itu, tidak pantas disebut pewaris para nabi, ”waratsah al-anbiya’” jika merasa cukup ilmu, merasa laku, merasa dibutuhkan umat, lalu malas membaca, malas belajar, malas menambah ilmu.

Lalu ayat ini bertutur tentang keadaan Musa A.S. dan santrinya di perjalanan yang kebablasan. Mestinya sudah nyampai di lokasi tujuan, yakni majma’ al-bahrain, tapi tak disadari.

Tepat di lokasi itu, keduanya istirahat sejenak dan asisten melihat keajaiban yang tidak dilihat oleh Musa. Ikan yang sudah dimasak menjadi lauk-pauk sebagai bekal perjalanan tiba-tiba hidup kembali, bergerak-gerak dan melompat menuju perairan, lantas berjalan laju, menyelinap di celah-celah bebatuan dan menghilang. “wa ittakhadza sabilah fi al-bahr saraba”.

Sang santri tersebut hanya bisa diam dan tidak mengabarkan kejadian aneh itu kepada gurunya, nabi Musa A.S. yang nampak kepayahan dan mengantuk. Begitu nabi Musa A.S. bangun dan merasa bugar kembali, spontan mengajak santrinya segera melanjutkan perjalanan. Guru ajaib, indikasinya juga ajaib.

Perjalanan yang tidak dimengerti ke mana arah dan tujuan. Meskipun tidak membawa ponsel android, tapi feeling-nya terus-menerus terhubung dengan situs Tuhan. Lalu terus melangkah dengan harapan bisa ketemu sang guru spiritual yang didambakan.

Tuhan menghentikan langkah mereka dengan memberi mereka rasa payah yang amat berat. Lalu ambil tempat istirahat untuk makan siang. “ .. atina ghada’ana laqad laqina min safarina hadza nashaba”. Cak, bawa kemari makanannya, kita benar-benar lapar dan lelah.

Yusa’ ibn Nun segera membuka bungkusan dan mengeluarkan makanan yang ia bawa untuk disajikan kepada Musa A.S. Begitu dilihat ikan yang menjadi lauk tidak ada, baru dia ingat kejadian ajaib sebelumnya. Lalu memberitahukan kepada nabi Musa A.S., bahwa ikannya melompat ke air saat sedang beristirahat di bebatuan baru lalu. Wa ittakhdza sabilah fi al-bahr ‘ajaba”.

Mendengar keterangan sang asisten, Musa A.S. terkejut sekaligus bergembira, lalu berteriak: “Nah itu yang kita cari..”, “dzalik ma kunna nabghi. Mereka segera kembali menapak tilas menuju tempat yang barusan disinggahi, di mana ikan melompat di situ. “fa irtadda ‘ala atsarihima qasasa”.

Simak berita selengkapnya ...