Senin, 10 Mei 2021 04:43

​Kotak Amal Makam Gus Dur Sumbang Fakir Miskin Rp 300 Juta Tiap Bulan

Kamis, 25 Februari 2021 08:43 WIB
Editor: mma
​Kotak Amal Makam Gus Dur Sumbang Fakir Miskin Rp 300 Juta Tiap Bulan
Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin saat ziarah ke makam Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy'ari dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di komplek pemakamam keluarga Pesantren Tebuuireng Jombang. foto: bangsaonline.com

SURABAYA, BANGASAONLINE.com – Bendahara Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur Firman Syah Ali merespons positif pernyataan penceramah kondang KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) tentang makam Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Menurut Gus Miftah, ada empat fakta tentang makam Gus Dur sehingga tak bisa dibandingkan dengan Museum Presiden RI ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Kristiani Herrawati (Ani) di Pacitan Jawa Timur. Di antaranya, kotak amal di makam Gus Dur tiap bulan menyumbang fakir miskin minimal sebesar Rp 300 juta, di samping menggerakkan roda ekonomi masyakat seperti travel bus, rumah makan, dan pedagang kali lima di sekitar Pesantren Tebuireng.

Dana kotak amal makam Gus Dur itu dikelola tersendiri oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT).  “Dan serupiah pun tidak diambil oleh pengurus makam dan tidak diambil oleh Pondok Pesantren Tebuireng,” tegas Gus Miftah. Artinya, semua dana dari para pezirah makam Gus Dur dan Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari itu disedekahkan untuk para fakir miskin pada masyarakat luar di luar Pesantren Tebuireng. Termasuk para anak sekolah di luar Pesantren Tebuireng yang tak mampu bayar SPP.

BACA JUGA : 

Gelar Silaturahmi, Gus Irfan Kenalkan Gemira ke Alumni Tebuireng

Gus Irfan Prihatin Santri Mbah Moen Gagal Dilantik Perangkat Desa Gara-gara Ijazah Pesantren

Kemendikbud Ceroboh, Pesantren Tebuireng Desak Minta Maaf dan Tarik Naskah Kamus Sejarah Indonesia

​Gus Miftah: Empat Fakta, Makam Gus Dur Tak Bisa Dibandingkan dengan Museum SBY-Ani di Pacitan

Karena itu, Cak Firman – panggilan Firman Syah Ali - mempertanyakan manfaat rencana pembangunan museum SBY-Ani. “Museum SBY-Ani apa (manfaatnya),” tanya Firman.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE.COM, Gus Miftah menilai Rachland Nashidik, Wakil Sekjen Partai Demokrat, gagal paham karena membandingkan makam Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Museum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Kristiani Herrawati (Ani) di Pacitan Jawa Timur.

“Saya pikir, ini perbandingan yang tidak sepadan,” tegas Gus Miftah dalam akun instagram pribadinya: @gusmiftah.

Menurut Gus Miftah, ada empat fakta kenapa antara Makam Gus Dur dan Museum SBY-Anni tak bisa dibandingkan.

Fakta pertama, jelas Gus Miftah, makam Gus Dur itu satu komplek dengan makam kakeknya, Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim Asy’ari) di Pesantren Tebuireng. Artinya, makam itu sudah ada sejak lama. “Dan yang perlu dicatat, Mbah Hasyim adalah pahlawan nasional,” kata Gus Miftah.

Fakta kedua, kata Gus Miftah, dana yang disalurkan pemerintah itu untuk membangun sarana dan prarasana di sekitar makam Gus Dur, bukan untuk membangun makam Gus Dur. Kenapa pemerintah harus membangun sarana dan prasarana di sana? Karena begitu banyaknya antusiasme jamaah (masyarakat) ingin berziarah ke makam Gus Dur dan makam Mbah Hasyim.

“Ribuan (orang) saben hari,” kata Gus Miftah yang pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Sleman Yogyakarta itu.

Fakta ketiga, jelas Gus Miftah, kotak infaq, kotak amal yang ada di makam Gus Dur, setiap bulan mampu menyumbang panti asuhan dan duafa (orang lemah, fakir miskin-Red), minimal Rp 300 juta.

“Maka dulu saya pernah pengajian (bilang) Rp 150 juta, saya diprotes oleh pengurus makam. Gus, bukan lagi Rp 150 juta, tetapi Rp 300 juta! Dan serupiah pun tidak diambil oleh pengurus makam dan tidak diambil oleh Pondok Pesantren Tebuireng,” tegas Gus Miftah.

Fakta keempat, kata Gus Miftah, makam Gus Dur mampu menggairahkan perekonomian umat. “Semuanya bergerak. Dari bus, perusahaan bus yang laku, kemudian rumah makan yang laku, pedagang-pedagang di sekitarnya yang laku,” kata Gus Miftah.

Karena itu, Gus Miftah berkesimpulan, jika sekarang ada orang (politisi Partai Demokrat) membandingkan museum SBY-Ami Yudhoyono di Pacitan dengan makam Gus Dur yang ada di Jombang berarti gagal paham. “Artinya, kalau sekarang ada orang memperbandingkan antara pembangunan Museum di Pacitan dengan komplek makam Gus Dur di Jombang, saya pikir dia gagal paham,” pungkas Gus Miftah.

Seperti ramai diberitakan, cuitan Rachland Nashidik di twitter sempat ramai. Gara-gara membela Museum SBY-Ani di Pacitan karena diserang politisi lain, Rachland Nashidik lalu membandingkan dengan makam Gus Dur.

"Tak ada yang salah dengan Museum Kepresidenan. Kita punya Museum Bung Karno dan Amerika Serikat punya museum dari presiden-presidennya. Museum adalah jejak bagi ingatan sejarah, bisa juga rujukan bagi standar pencapaian pada suatu bangsa. Dan obyek wisata bagi pendapatan daerah.

Pertama, bukan museum keluarga. Kedua, inisiatif pendanaan datang dari Pemprov itu juga cuma sebagian. Terbesar berasal dari sumbangan dan partisipasi warga.

Ketiga, sebagai pembanding, anda tahu makam Presiden Gus Dur dibangun negara?" tulis Rachland Nashidik sembari menyematkan tautan berita.

Namun Rachland Nashidik akhirnya minta maaf setelah banyak yang protes karena ia tak pakai data akurat. (mma)

Penjaga Rumah Ibadah Bertanya Berapa Rupiah Jatah Tuhan
Senin, 10 Mei 2021 00:00 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Anekdot Gus Dur edisi Ramadan edisi 28 ini mereview cerita Gus Dur tertang para penjaga rumah ibadah. “Mereka berembuk soal sumbangan umat kepada rumah ibadah yang mengalami surplus. Lalu mereka bertanya, berapa ja...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Minggu, 09 Mei 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Tulisan Dahlan Iskan kali ini sangat menyentuh. Tentang prahara rumah tangga pemilik Gedung Empire Palace Surabaya: Gunawan Angkawidjaja dan istrinya, Chin Chin atau Trisulowati.Menurut Dahlan Iskan, Gunawan bukan ha...
Rabu, 28 April 2021 14:16 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Sabtu, 08 Mei 2021 11:38 WIB
Selama Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) d...