Sabtu, 08 Agustus 2020 13:30

Tafsir Al-Kahfi 25-26: Perbandingan Tahun Syamsiyah dan Qamariah

Senin, 13 Juli 2020 23:23 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Kahfi 25-26: Perbandingan Tahun Syamsiyah dan Qamariah
ILUSTRASI: Gua Ashabul Kahfi. foto: umroh.com

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aan

Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.

26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu alssamaawaati waal-ardhi abshir bihi wa-asmi’ maa lahum min duunihi min waliyyin walaa yusyriku fii hukmihi ahadaan

Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.”

TAFSIR AKTUAL

Al-imam al-qurthuby menurunkan sejarah turunnya ayat ini (25) terkait dengan diskusi kecil yang mempersoalkan lama pemuda gua tidur di dalam gua. Versi al-Dlahhak, ayat itu semula hanya mengabarkan lamanya 300 saja tanpa keterangan waktu lebih detail. "..walabitsu fi kahfihim tsalats mi'ah". Kemudian menimbulkan pertanyaan: "300 apa? Tahun, bulan, atau hari?

Kemudian dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah 300 tahun. "..walabitsu fi kahfihim tsalats mi'ah sinin". Ada tambahan kata "sinin", tahun. Itu pun masih menyisakan pertanyaan. Apakah hitungan tahun itu pakai dasar hitungan syamsiyah seperti yang biasa mereka pakai atau berdasar hitungan tahun qamariyah yang biasa dipakai bangsa arab?

Kemudian turun tambahan kata "wa izdadu tis'a ", plus sembilan. Jadi total lama tidur adalah 309 tahun. Di sini, meskipun tidak dijelaskan sembilan apa, tapi sudah terbaca, bahwa yang dimaksud adalah "tahun, sanah". Orang arab, utamanya yang ahli bahasa sudah mengerti dari tampilan 'adad (tis') yang berbentuk mudzakkar.

Dalam 'adad mufrad, jika al-'adad sudah dipatok "mudzakkar", maka al-ma'dud pasti mu'annats. Karena kaedahnya harus mukhalif, berlawanan. Soal waktu, yang berbentuk mu'annats adalah yang "tahun" (sanah). Lagian, sebelumnya sudah disebutkan kata tahun (Sinin, jamak). Sehingga tidak mungkin lagi dimaknai sepuluh bulan atau hari.

Dari sini, al-qur'an mengajarkan, bahwa al-ma'dud itu boleh dibuang (mahdzuf), tidak harus disebut terus-menerus. Karena sudah maklum dan tinggal mencocokkan saja. Jadi tidak perlu "wa izdadu tis'a sanawat/Sinin". Cukup "tis'a" saja.

Terma "Tsalats mi'ah sinin". Kata "sinin" berbentuk jamak, bertanwin dan terpisah dari kata mi'ah. Susunan ini tidak lazim menurut kaedah dasar al-'adad "ma fauq al-mi'ah", 'adad 100 ke atas. Mestinya, al-ma'dud harus berbentuk mufrad (tunggal) dan beri'rab jarr (khafd) sebagai posisi idhafah. Yakni "Tsalatsa mi'ati sanatin".

Ajaran yang diambil dari ilmu bahasa arab adalah, bahwa idhafah yang berjajar menumpuk, tiga kata (Tsaats Mi'ah Sanah) boleh dipenggal demi keindahan dan varian bahasa. Jadinya cuma gandeng dua saja (Tsalats Mi'atin), diputus dengan tanwin.

Sedangkan al-ma'dudnya disendirikan. Boleh disesuaikan dengan i'rab asal kata sebelumnya (Tsalats), yakni nasab, sehingga menjadi "Sinin". Dan taqdir kalamnya menjadi "Badal, 'athaf bayan" atau "al-maf'ul bih", taqdirnya: "a'ni atau ya'ni (Allah menghendaki) "sinina". Atau fashl dan dibaca rafa'. Jadinya "sinun" seperti qiraah al-Dhahhak. Taqdirnya "tilka sinun", susunan mubtada'-khabar dengan al-mubtada' mahdzuf.

Kembali ke terma "Tsalats Mi'atin Sinina" (300 tahun) dan "Tsalats Mi'atin Sinina wa izdadu tis'a" (309 tahun). Sesungguhnya sama, tidak ada beda antara hitungan 300 dan 309 tahun. Pertama Tuhan menyebut 300 tahun, lalu menyebut lagi 309 tahun setelah ada pertanyaan hitungan apa yang dipakai.

Dua angka itu adalah pemaduan antara dua hisab syamsiah dan qamariah yang ternyata dibenarkan oleh ahli falak atau ahli anstronomi. Allah SWT mengajarkan, bahwa ada pergeseran waktu antara dua hisab tersebut. Bahwa setiap 100 tahun hisab syamsiah akan bertambah tiga tahun menurut hisab qamariah. Atau setiap 33 tahun plus 4 bulan bergeser satu tahun.

Maka sama-sama benar mereka mengatakan, bahwa usia Rasulillah SAW hanyalah 61 tahun lebih sedikit karena pakai hitungan syamsiah. Dan benar juga yang mengatakan 63 tahun karena pakai hisab qamariah.

Total, 300 tahun menurut hisab syamsiah menjadi 309 menurut hisab qamariah. Maka terjawablah pertanyaan mereka dan Tuhan tidak mencla-mencle. Sekaligus mengajarkan, bahwa hitungan tahun boleh-boleh saja pakai syamsiah atau qmariah. Tuhan tidak mendiskreditkan: syamsiah milik non muslim dan qamariah milik islam. Syamsiah menghitung pakai jasa matahari, dan qamariah pakai jasa rembulan.

Jelaslah, bahwa hitung-hitungan itu lintas keyakinan dan lintas agama. Perkoro mau membuat identitas sendiri, seperti tahun baru hijriah yang diawali bulan Muharram, itu sah-sah saja dan bagus sebagai karakter dan identidas muslim. Tapi sekali lagi bukan bagian dari sendi keimanan.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Jumat, 24 Juli 2020 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kreatif. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sudah dilakukan oleh Pemkot Surabaya dalam usahanya mempercantik kawasan Ekowisata Mangrove Medokan Sawah. Betapa tidak, dari sejumlah barang-barang bekas, sepe...
Kamis, 06 Agustus 2020 20:34 WIB
Oleh: Prof Dr Rochmat WahabPada hakekatnya manusia bermula dari lahir, tumbuh dan berkembang mencapai puncak, menurun dan berakhir dengan wafat. Inilah sunnatullah, normalnya manusia, walau pada prakteknya ada juga yang dipanggil Allah SWT, s...
Minggu, 02 Agustus 2020 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 03 Agustus 2020 11:04 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...