Rabu, 05 Agustus 2020 20:40

Amang Genggong, Sang Maestro Harmonika, Aset Penting Gresik

Rabu, 01 Juli 2020 18:44 WIB
Editor: Redaksi
Amang Genggong, Sang Maestro Harmonika, Aset Penting Gresik
Gus Yani saat berkunjung ke kediaman Amang Genggong. foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE

Oleh Fandi Akhmad Yani (Gus Yani)*

Kring... Kring.. Kring.. "Hallo Pak Ketua". Terdengar suara lirih dari depan kantor DPRD Gresik saat saya keluar dari kantor.

Adalah Mbah Amang Genggong. Sudah menjadi kebiasaannya setiap kali melintas di depan gedung DPRD Gresik, Mbah Amang Genggong selalu menyapa. Siapa pun yang berjumpa dengannya. Di mana saja. Kapan saja. Kalau berjumpa akan selalu disapa. Termasuk saya.

Mayoritas warga Gresik mengenalnya. Terutama, kemampuannya yang lihai dalam memainkan harmonika.

Umurnya sudah menginjak kepala delapan. Tapi semangatnya itu loh. Tak mau kalah dengan yang muda-muda. Terus mengayuh sepeda onthel kesayangannya. Berkeliling setiap hari.

Dari warung ke warung. Sekadar ingin bercengkrama. Bersama orang-orang yang dikenalnya. Dengan minuman favoritnya. Kopi hitam pekat. "Srupuuut...."

Tetapi sejak sebulan ini tak terdengar lagi suara khas itu. Di sudut kota pudak. Di tepi jalan protokol. Di keramaian warkop. "Jenengan ten pundi mbah Amang, kok mboten ketingal blas," tanya saya dalam hati.

Salah seorang anggota dewan memberitahu saya jika pak Amang sedang sakit karena terjatuh dari sepeda onthelnya itu. Ya Allah.. Ya Karim.. Benar saja. Suasana di kota santri itu lain, tak seperti biasanya. Rupanya sang maestro harmonika kebanggaan kita itu tengah tak berdaya. Tubuhnya terbaring lemas.

Kemarin malam, saya bergegas menuju jalan Nyai Ageng Arem-arem. Tepat di belakang rumah Gajah Mungkur. Saya berjalan memasuki lorong kecil. Di situlah Pak Amang menghabiskan hidupnya seorang diri.

Sehari-hari hanya ditemani sunyi. Di rumah yang berukuran mini. Namun sumbernya inspirasi. Sampai-sampai beliau berhasil menyabet piagam penghargaan dari Rekor Muri.

Di atas kasurnya yang tipis dengan spreinya yang lusuh itu, Pak Amang nampak menikmati tidurnya. Meski saya sendiri sebenarnya tidak tega. Saya menawarinya kasur yang lebih layak. Tapi beliau lebih menikmati kasur tipisnya itu. "Pripun kondisine Mbah," tanya saya.

"Durung iso sepeda'an gus," jawab mbah Amang.

"Ayo mbah kulo betoh ten rumah sakit mawon nggeh ben cepet waras," tawar saya.

"Gak usah gus, tak istirahat nak omah wae," jelas mbah Amang.

Semangat kemerdekaannya itu loh. Nampak jelas. Mengalir deras dalam darah seni mbah Amang.

Di saat tubuhnya terbaring lemas, tangannya mencoba menggapai sebuah buku. Semacam antologi.

Kumpulan eksistensi (foto-foto pentasnya, red) di dunia musik dari era orde lama hingga era reformasi (digital).

Foto-foto itu terbingkai rapi. Seraya bercerita, buku itu ditunjukkan ke saya. Lembar demi lembar saya buka. Sembari saya men-support-nya untuk doyan makan. Agar sehat. Supaya bisa beraktivitas kembali meramaikan suasana kota industri. Dengan alunan harmonikanya yang merdu itu. Serta lagu andalannya 'Never On Sunday".

Melihat perjuangan hidup Lelaki kelahiran Gresik 21 Juli 1940 itu membuat saya tersadar. Bahwa para seniman di Gresik merupakan aset penting yang tidak boleh diabaikan begitu saja.

Seperti mbah Amang. Ia sendiri ternyata mampu memainkan tiga alat musik sekaligus, bahkan sambil main silat. Ini belum ada sebelumnya di Gresik.

Hanya satu-satunya di Gresik. Sampai detik ini. Hanya mbah Amang yang bisa melakukan itu.

Puluhan lagu bisa dimainkannya dengan mahir. Baik itu lagu bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, maupun lagu-lagu daerah.

Kepiawaiannya memainkan harmonika itu telah diakui banyak orang. Deretan piala dalam ajang festival yang pernah diikutinya juga menghiasi dinding-dinding rumahnya.

Bahkan, kehebatannya memainkan harmonika dalam tiga suara sekaligus itu membuatnya masuk dalam salah satu dari enam pemain harmonika fenomenal di dunia.

Nama mbah Amang sendiri disejajarkan dengan Hermine Deurloo (pemain harmonika asal Belanda), Jason Ricci (asal Amerika), Toots Thielemans (asal Belgia), dan Jean-Jacques Milteau (asal Prancis), Hari Pochang atau Hari Krishnadi, asal Bandung sahabat Alm. Harry Roesli.

Maka tidak heran kalau mbah Amang disebut sebagai Maestro Harmonika yang sangat unik.

Mbah Amang Genggong mugi sehat njeh. Kulo kangen munine suoro harmonika lan sepedae jenengan ten dalan. Mohon doanya warga Gresik untuk kesembuhan beliau!

(Rumah Amang Genggong, 30 Juni 2020)

#Spiritbarusenimangresik

#Energibarugenerasisolusi

*Penulis adalah Ketua DPRD Gresik

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Jumat, 24 Juli 2020 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kreatif. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sudah dilakukan oleh Pemkot Surabaya dalam usahanya mempercantik kawasan Ekowisata Mangrove Medokan Sawah. Betapa tidak, dari sejumlah barang-barang bekas, sepe...
Kamis, 30 Juli 2020 21:34 WIB
Oleh: KH. Agoes Ali Masyhuri*Kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim yang menyerahkan dana hibah puluhan miliar rupiah kepada Tanoto dan Sampoerna Foundation membuat dua ormas besar Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah kecewa dan mundur dari organi...
Minggu, 02 Agustus 2020 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 03 Agustus 2020 11:04 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...