TUBAN, BANGSAONLINE.com - Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Tuban tak menyurutkan semangat 37 warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi untuk terus mengayuh sepeda menuju Istana Negara Jakarta Pusat.
Dengan bekal seadanya, puluhan warga Banyuwangi itu "Ngontel" bareng untuk mencari keadilan kepada presiden Joko Widodo. Mereka berangkat dari sejak Sabtu (14/2) lalu.
BACA JUGA:
- Dukung Pertanian Presisi, BRI Tuban Bangun Greenhouse di Kampus Mapesa Singgahan
- PT SBI Salurkan 24 Hewan Kurban untuk Warga Tuban pada Iduladha 2026
- Lapas Tuban Gagalkan Penyelundupan 177 Butir Obat, Alur Kunjungan Bakal Diperketat
- PT Solusi Bangun Indonesia Bagikan Dividen Rp329,3 Miliar dari Laba Bersih 2025
"Kami berangkat ke Jakarta untuk mencari keadilan kepada Pak Presiden Joko Widodo (Jokowi)," kata Suparti (35) saat melintasi Jalan Raya Surabaya-Semarang, tepatnya di wilayah Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Kamis (20/2).

Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes warga Desa Sumberagung dan meminta kepada pemerintah daerah maupun pusat agar mencabut izin usaha pertambangan (IUP) emas, PT Bumi Sukses Indo (BSI) dan PT Damai Sukses Indo (DSI). Pasalnya, beroperasinya tambang emas tersebut, berdampak buruk terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
"Hancur semua mas sejak ada tambang emas itu, karena terjadi banjir dan tanah longsor," ungkapnya.
Sebelum menuju ke Jakarta, puluhan warga tersebut sudah menyampaikan aspirasinya kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Surabaya. Namun, pada saat itu pemimpin Jatim tersebut sedang ada kegiatan di luar daerah sehingga tidak bisa menemui warga.
Akhirnya warga hanya ditemui Kepala Dinas ESDM Jatim Setiajit. Dalam pertemuan itu, warga masih belum puas dengan solusi yang ditawarkan oleh pemerintah provinsi. Hingga akhirnya puluhan warga Banyuwangi itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
"Tidak ada solusi yang tepat bahkan Ibu Gubernur Khofifah saja tidak menemui kami, ketika masyarakat Sumberagung mengadukan nasibnya," ungkapnya.
Selain itu, area tambang emas yang sekarang di eksploitasi merupakan tempat bagi masyarakat sekitar untuk berlindung dari ancaman gelombang tsunami. Namun sejak keberadaan tambang itu mereka khawatir mencari tempat berlindung.
"Beberapa tahun yang lalu terjadi tsunami masyarakat selamat karena menyelamatkan diri ke lokasi yang saat ini dijadikan pertambangan," pungkasnya. (gun/ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




