Senin, 30 Maret 2020 23:21

Tafsir Al-Isra 81: Menghancurkan Patung, Bolehkah?

Sabtu, 08 Februari 2020 12:02 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Isra 81: Menghancurkan Patung, Bolehkah?
Ilustrasi

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

81. Waqul jaa-a alhaqqu wazahaqa albaathilu inna albaathila kaana zahuuqan

Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.


TAFSIR AKTUAL

Tegas sekali pernyataan ayat di atas, bahwa begitu kebenaran tiba, maka kebatilan harus sirna. Abdullah ibn Mas'ud menuturkan, bahwa ketika 'Am al-Fath, penaklukan kota Makkah, Rasulullah SAW masuk masjid al-Haram dan melihat sekitar 360 patung dengan berbagai karakter dipajang di seputar Ka'bah.

Sambil membaca ayat ini , "... ja'a al-haqq wa zahaq al-bathil, inn al-bathil kan zahuqa". beliau mencolek (ndudul) patung-patung tersebut satu per satu dengan sebilah kayu kecil yang dipegangnya. Ajaib sekali, hanya dengan sentuhan ringan, patung-patung itu roboh seketika. Padahal patung itu berat, kokoh berdiri di atas lantai. Beberapa ada yang ditanam setengah permanen.

Para sahabat hanya bisa terkagum-kagum melihatnya dan beliau menyuruh mereka segera menghancurkan dan membuang keluar masjid. Ramai-ramai para sahabat membersihkan masjid al-haram dari puing-puing patung. Mereka bertakbir memuji kebesaran Tuhan atas kembalinya masjid terhormat nomor satu itu ke pangkuan umat Islam. Fath Makkah adalah reformasi paling agung di dunia, damai, tuntas tanpa setitik pun darah menetes.

Penghancuran patung-patung sesembahan tersebut mutlak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat atas perintah beliau karena kondisi waktu itu adalah perang. Perang antara yang haq (islam) dan yang batil (kekufuran-kemusyrikan), hanya saja saja mereka menyerah sebelum pertempuran terjadi.

Di samping itu, misi jihad adalah mengubah kebatilan menjadi kebenaran. Maka, semua yang menjadi elemen kebatilan mesti dihancurkan agar mereka tidak mengenang dan kembali ke kemusyrikan lagi. Menyerahnya para kafir Makkah saat fath Makkah (penaklukan) tersebut menunjukkan bahwa mereka sudah siap beriman dan nyatanya begitu. Hal demikian terbukti dari seru pemimpin mereka sendiri, yakni Abu Sufyan. Maka patung sesembahan tidak dibutuhkan lagi, lalu dihancurkan.

Tidak sama ketika situasi damai dan hidup berdampingan bersama nonmuslim, seperti ketika Rasulullah SAW menerima kaum dzimmy, musta'man, dan mu'ahad. Mereka dikenakan pajak (jizyah), maka mereka dipersilakan beribadah menurut keyakinan mereka masing-masing. Yang menyembah patung dibiarkan asal dilakukan secara tertutup dan tidak terang-terang sehingga memprovokasi kaum muslimin.

Untuk itu, di negeri ini, patung-patung yang disembah oleh pemeluk agama lain, seperti di Borobudur atau di tempat lain adalah terselenggara dalam keadaan damai dan hidup berdampingan. Kita tidak diperbolehkan menghancurkan, tetapi tidak boleh juga kita melestarikan.

Orang Islam tidak boleh mendukung perbuatan dosa, apalagi mendukung dana. Melestarikan patung sesembahan sama dengan rela terhadap kemusyrikan. Urusan menjaga dan melestarikan itu urusan mereka sendiri, seperti kita mengurusi rumah ibadah kita sendiri.

Negeri ini bukan monopoli milik orang Islam saja (Dar al-Islam), melainkan negeri damai (Dar al-Salam), milik bersama. Karena mayoritas penduduknya beragama Islam, maka damai-damai saja. Sungguh sumbangan terbesar umat Islam pada kemanusiaan. Hanya saja yang menikmati sumbangan ini sering kurang mengerti.

Tetapi, tidak semua patung itu boleh dihancurkan. Jika patung itu bisa dimafaatkan untuk kemaslahatan umat, maka harus dimanfaatkan dengan catatan tidak ada efek madlarat di sisi lain.

Semisal patung sesembahan yang terbuat dari logam mulia, emas, perak, platina, dan lain-lain, maka harus dilebur lebih dulu sehingga tidak lagi berwujud sebagai patung. Setelah menjadi emas batangan -misalnya-, baru dijual. Hasilnya dipakai untuk kemaslahatan manusia, diberikan kepada fakir dan miskin atau kebaikan keagamaan. Peleburan itu mutlak dan wajib dilakukan. Jika tidak, maka tidak boleh. Sebab masih memberikan servis sesembahan di tempat lain.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Sabtu, 28 Maret 2020 14:13 WIB
Oleh: M Cholil NafisSaat saya wawancara di TV atau radio banyak pertanyaan tentang hadits yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan jum’atan tiga kali berturut-turut jadi keras hatinya bahkan ada yang menyebut kafir dan wajib bersyahadat kemba...
Sabtu, 28 Maret 2020 23:26 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*85. Wayas-aluunaka ‘ani alrruuhi quli alrruuhu min amri rabbii wamaa uutiitum mina al’ilmi illaa qaliilaan.Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku,...
Jumat, 20 Maret 2020 00:31 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...