Selasa, 25 Februari 2020 19:06

Bangunan Landmark Gajah Mungkur Dinilai Hilangkan Filosofi Cagar Budaya

Jumat, 17 Januari 2020 10:28 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: Syuhud
Bangunan Landmark Gajah Mungkur Dinilai Hilangkan Filosofi Cagar Budaya
Bangunan landmark Gajah Mungkur di perlimaan Sukorame yang dibangun Pemkab Gresik dari CSR PT. Petrokimia Gresik. foto: ist.

GRESIK, BANGSAONLINE.com - Gilang Adiwidya (45), Anggota Perkumpulan Kaum Giri/Makam Sunan Giri menilai pembangunan landmark Gajah Mungkur di perlimaan Sukorame yang dibangun Pemkab Gresik dari dana corporate social responsibilty (CSR) PT. Petrokimia Gresik (PG), menghilangkan filosofi aslinya bangunan cagar budaya.

"Saya katakan bahwa bangunan fisik Gajah Mungkur telah keluar dari filosofi aslinya sebagai bangunan cagar budaya," ujar Gilang Adiwidya kepada BANGSAONLINE.com, Jumat (17/1).

Menurut Gilang, merujuk bangunan rumah gajah mungkur di Kelurahan Pekelingan Kecamatan Gresik, harus memenuhi kriteria-kriteria cagar budaya sebagaimana diatur dalam pasal 5 Undang-Undang No 11 Tahun 2010, tentang Cagar Budaya. Yaitu, (1) berusia sekurang-kurangnya 50 tahun, (2) mewakili masa gaya sekurang-kurangnya berusia 50 tahun, dan (3) dianggap memiliki arti penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan.

Namun, kata Gilang, bangunan landmark Gajah Mungkur di perlimaan Sukorame keluar dari ketentuan itu. Bangunan landmark Gajah Mungkur tidak memperhatikan poin-poin dalam pelestarian cagar budaya. Sebab, bangunan landmark Gajah Mungkur telah mengubah bentuk Gajah Mungkur jauh dari keasliannya yang justru menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai hewan Gajah ada telinga lebar, mata sipit, dan 4 kaki seperti patung Gajah yang dibangun menghadap rumah dan membelakangi Jalan Nyai Ageng Arem-Arem Kelurahan Pekelingan Kecamatan Gresik.

"Gajah Mungkur itu mengandung filosofi sangat dalam dibangun sebagai penolak bala bencana, pelindung, pengetahuan, kecerdasan, pelindung, dan kebijaksanaan yang terkenal. Hewan ini adalah Ganesha sebagai hewan suci orang Hindu," ujar dia.

Gilang lantas menceritakan sejarah rumah Gajah Mungkur, yang merupakan rumah keluarga besar Gajah Mungkur H. Oemar Bin Ahmad. Rumah berlantai 2 itu dibangun pada masa kolonial Belanda oleh putra keempatnya yang bernama H. Djaelani pada tahun 1896.

Ia menceritakan berdasarkan penuturan Kiai Mukhtar Jamil Gresik, bahwa H. Jaleani sangat sakti karena bisa membangun rumah besar dengan luas 2.000 M. "Pada zaman kemasan Gajah Mungkur sampai tahun 85-an banyak Sarang Walet yang bisa diunduh di lantai dua sebagai sumber utama perekonomian keluarga Gajah Mungkur pada saat itu," katanya.

Untuk itu, Gilang menyayangkan dibangunnya landmark rumah dan Patung Gajah Mungkur oleh Pemkab Gresik tanpa tidak membicarakan terlebih dahulu dengan ahli waris Rumah Gajah Mungkur saat ini, Akhmad Choiri (39) yang juga pengusaha batik Gajah Mungkur.

Gilang juga mengkritik pernyataan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Gresik, Ida Lailatussa’diyah, yang mengatakan bahwa desain Gajah Mungkur sengaja dibangun dengan bentuk tidak sempurna sebagaimana bentuk gajah pada umumnya.

Menurut Ida, landmark patung Gajah Mungkur sengaja dibentuk abstrak. Hal ini untuk menghormati Kota Gresik sebagai Kota Wali yang menjunjung ajaran Islam, di mana ada larangan membuat patung sesuatu bernyawa yang mirip bentuk aslinya. (hud/ns)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Jumat, 21 Februari 2020 20:10 WIB
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Tuban mempunyai wisata edukasi baru berupa Taman Kelinci. Suasana Taman Kelinci yang terletak di tepi jalan Desa Mliwang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban ini begitu adem, asri, dan sejuk, karena jauh dar...
Senin, 24 Februari 2020 14:06 WIB
Oleh : Firman Syah Ali*Pertama Kali saya berjumpa Habib Ahmad Bin Ismail Alaydrus pada tahun 2016 lalu di Majelis Ratib beliau di Kawasan Tapos Bogor. Waktu itu saya hadir Maulid Akbar diajak oleh kakak ipar beliau, Habib Usman Arsal Alhabsyi Jakarta...
Kamis, 20 Februari 2020 11:01 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*81. Waqul jaa-a alhaqqu wazahaqa albaathilu inna albaathila kaana zahuuqanDan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.TAFSIR AKTUALAyat kaji 80 ...
Rabu, 29 Januari 2020 10:58 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...