Senin, 18 November 2019 18:29

Tiap Tahun, Industri Ban Vulkanisir Serap 90.000 Ton Karet

Rabu, 25 September 2019 21:49 WIB
Editor: Yudi Arianto
Wartawan: Catur Andy
Tiap Tahun, Industri Ban Vulkanisir Serap 90.000 Ton Karet

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Industri ban vulkanisir merupakan penyerap karet alam terbesar kedua setelah industri ban. Setiap tahun, industri ban vulkanisir menyerap sekitar 90.000 ton karet yang dihasilkan petani.

Terbilang cukup jauh dibanding serapan dari industri ban yang saban tahun menyerap sekitar 220.000 ton karet alam. Tapi dua sektor industri tersebut yang terbesar.

Menurut Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi, Dirjen Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian Taufik Bawazir, perputaran uang yang dihasilkan dari industri ban vulaknisir mencapai kisaran Rp 12 triliun.

"Artinya, potensi industri di sektor ini sangat bagus. Sehingga pemerintah harus melindunginya, serta mendorong sektor ini agar terus berkembang," kata Taufik Bawazir di sela acara Munas Pervindo (perkumpulan pengusaha vulaknisir Indonesia) di Sidoarjo, Rabu (25/9/2019).

Nah, untuk melindungi dan memperkuat industri vulaknisir, pemerintah sudah menyiapkan sejumlah strategi. Diantaranya membatasi ban import yang beredar di pasaran Indonesia.

Ban yang tidak bisa divulkanksir, tidak boleh masuk ke Indonesia. "Pemerintah sudah menerapkan SNI Wajib, semua ban yang beredar di pasaran harus memenuhi itu. Jika tidak, tentu akan diproses sama polisi," tegasnya.

Wajib SNI juga bertujuan untuk menjaga keselamatan pengguna kendaraan. Terus bagaimana dengan ban vulaknisir? Menurut Taufik, khusus vulaknisir sedang digodok ketentuan kualitasnya.

"Diatur dalam GMP (good manufacturing proces) atau cara membuat ban vulaknisir yang baik dan benar," jawab dia. Ketentuannya berbeda, karena vulaknisir dan van pabrikan juga beda.

Menurut Ketua Pervindo Taufik Rochman, kondisi van vulaknisir yang dijual dipasaran itu 80 persen ban baru dari toko. Tapi harganya hanya sekitar separo harga toko atau harga ban baru. "Jika ban baru harganya Rp 1,3 juta, yang vulaknisir sekitar Rp 600 ribu atau Rp 700 ribu saja. Kualitasnya 80 persen ban baru," sebut dia.

Sejauh ini, dari sekitar 700 anggota Pervindo, mayoritas masih memproduksi dengan cara manual. Hanya sekitar 15 persen yang memakai mesin atau peralatan canggih. "Makanya, kami terus mendorong semua anggota di berbagai wilayah di Indonesia agar mulai memanfaatkan teknologi. Selain memudahkan, juga hasilnya lebih bagus," pungkasnya. (cat/ian)

Badai Kembali Terjang Ngawi, Panggung dan Tenda untuk Lomba Panahan di Alun-alun Porak Poranda
Sabtu, 09 November 2019 00:05 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Hujan disertai angin kencang kembali memporak-porandakan Kabupaten Ngawi, Jumat (8/11) sore. Kali ini badai angin menerjang wilayah alun-alun dan sekitarnya, yang kebetulan sedang digelar lomba panahan....
Jumat, 15 November 2019 23:45 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Wisata Budaya Taneyan Lanjhang yang terletak di Dusun Buddagan I Desa Larangan Luar Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan semakin diminati wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Taneyan Lanjhang merupakan rum...
Rabu, 06 November 2019 12:44 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan*Para elit NU struktural tak bisa menyembunyikan kekecewaannya ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Maju pada 23 Oktober 2019 lalu. Kekecewaan itu dieskpresikan secara terbuka oleh Wakil Ketua PB...
Senin, 18 November 2019 12:31 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*71. Yawma nad’uu kulla unaasin bi-imaamihim faman uutiya kitaabahu biyamiinihi faulaa-ika yaqrauuna kitaabahum walaa yuzhlamuuna fatiilaan.(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpi...
Minggu, 22 September 2019 14:08 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...