Jadi Khatib di Masjid Agung Bangkalan, KH. Makki Nasir Ingatkan Pentingnya Muhasabah Selama Ramadhan

Jadi Khatib di Masjid Agung Bangkalan, KH. Makki Nasir Ingatkan Pentingnya Muhasabah Selama Ramadhan KH. Makki Nasir saat bertindak sebagai khatib dalam ibadah salat Jumat di Masjid Agung Bangkalan, Jumat (27/2/2026).

BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Bulan suci Ramadhan sejatinya bukan sekadar ritual tahunan menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah "sekolah jiwa" yang dirancang untuk menakar kejujuran serta membangun keikhlasan seorang hamba.

Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh KH. Makki Nasir saat bertindak sebagai khatib dalam ibadah salat Jumat di Masjid Agung Bangkalan, Jumat (27/2/2026).

Dalam khotbahnya, KH. Makki Nasir menegaskan bahwa momentum Ramadhan menuntut refleksi menyeluruh yang menyentuh aspek rohani, bukan sekadar perubahan jasmani. Meski perubahan jasmani tampak nyata melalui peningkatan ibadah individual dan kepedulian sosial, esensi utamanya terletak pada kualitas batin.

"Ramadhan adalah sekolah jiwa, tempat kita menjaga jasmani dan rohani, memperbanyak ibadah individual sekaligus ibadah sosial," tutur beliau di hadapan ribuan jamaah.

KH. Makki Nasir juga memberikan catatan kritis bagi umat Islam yang tetap disibukkan oleh rutinitas pekerjaan selama bulan puasa. Ia menepis anggapan bahwa keterbatasan ekonomi atau padatnya aktivitas menjadi penghalang untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Baginya, kesibukan dalam mencari nafkah yang halal sekalipun bisa menjadi celah lunturnya keikhlasan jika tidak dibarengi dengan evaluasi diri atau muhasabah.

"Kesibukan bekerja jangan sampai menghalangi terciptanya keikhlasan. Evaluasi diri menjadi kunci, apakah hari ini puasa kita benar-benar dijalankan dengan penuh kesadaran," tegas KH. Makki Nasir.

Mengingat Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun, jamaah diingatkan untuk mengelola waktu secara baik dan terukur. Tanpa pengelolaan waktu dan kesungguhan niat, anugerah besar berupa kesempatan memperbaiki diri baik secara jasmani maupun rohani akan berlalu sia-sia.

Khotbah ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat Bangkalan, bahwa keberhasilan menjalankan ibadah puasa tidak diukur dari seberapa sibuk aktivitas duniawi yang dijalani, melainkan pada kesungguhan dalam mengelola diri dan hati agar sejalan dengan ridha Allah SWT. (uzi/rev)