Sabtu, 23 November 2019 00:42

​Warga Papua di Jatim, Warga Jatim di Papua

Minggu, 08 September 2019 13:30 WIB
Editor: Em Mas'ud Adnan
​Warga Papua di Jatim, Warga Jatim di Papua
Em Mas'ud Adnan

Oleh: Em Mas’ud Adnan*

Peristiwa rusuh di Manokwari Papua Barat, akibat insiden rasial dan perusakan bendera merah putih di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang Jawa Timur, membuka mata hati kita. Ternyata saudara kita warga asli Papua yang kini mukim di Jawa Timur luar biasa banyak. Bahkan warga asli Papua di Jatim kini tersebar di 38 kota dan kabupaten, baik sebagai mahasiswa, pekerja, maupun rumah tangga.

Maka ketika demo politik rasial pecah di Manokwari, warga Papua yang tinggal di berbagai kota di Jatim langsung “show of force” ke publik. Mereka menyampaikan pesan persaudaraan: wahai saudaraku di kampung halamanku, saudaramu warga Papua bertebaran di seluruh bumi nusantara, terutama di Jawa Timur.

Di Jombang, misalnya, warga Papua ramai-ramai ziarah ke makam Gus Dur. Di Blitar, mahasiswa asal Papua ikut aksi damai di depan patung Bung Karno. Begitu juga di Madura, tepatnya di Pamekasan, warga asli Papua tampil ke publik bersama aparat kepolisian.

Di Ngawi juga begitu. Warga Papua yang tinggal di kabupaten ujung barat Jawa Timur itu secara vulgar menyampaikan salam persaudaraan. Dikemas dalam aksi damai, Marinus Sayori, salah seorang warga Papua di Ngawi menyatakan: Kami Pace dan Mace (bapak dan ibu) Papua jangan mendengar berita hoax yang tidak penting. Karena kita warga Negara Indonesia di bawah bendera merah putih, cinta Indonesia, kami cinta NKRI harga mati.

Bahkan di kabupaten Probolinggo, kabupaten basis NU, lebih konkret lagi. Warga asli Papua jadi camat. Namanya Abdyh Ramim, Camat Gending. Jadi warga Papua sudah hidup guyub dengan warga Jawa Timur. Apalagi di Malang, Surabaya, dan tentu juga di Jakarta dan suluruh Indonesia.

Bagaimana dengan warga Jatim di Papua? Justru warga Jatim yang tinggal di Papua sangat besar. Salah satu warga Jatim yang cukup fenomenal di Papua Barat adalah Ustadz Darto Saifudin. Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an al-Qalam di Manokwari Selatan itu menarik kita buat contoh, bukan saja karena ia hidup harmonis dengan para pendeta dan kepala suku, tapi juga punya pengalaman panjang dan menegangkan.

Ketika awal mendirikan pesantren ia dan keluarganya nyaris diserbu warga Papua. Bahkan selama dua bulan kehidupan pesantrennya diselimuti ketegangan, karena ada ancaman penyerbuan. Ia pun mengungsikan keluarganya.

Untung sebelum menyerbu, warga Papua dari salah satu kampung yang terkenal garang itu mengirim utusan lebih dulu ke pesantren Ustadz Darto. Ternyata mereka kaget tatkala melihat foto Gus Dur dan kalender Pesantren Tebuireng terpampang di rumah Ustadz Darto. Darto memang alumnus Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.

“Gus Dur kitong pu bapak,” teriak mereka. Gus Dur adalah bapak kita.

Seketika itu juga para utusan yang semula bertampang garang dan seram langsung ramah dan lemah lembut. Mereka berangkulan dengan Ustadz Darto. Saat itu juga terungkap, ternyata mereka mau menyerang pesantren Ustadz Darto karena terprovokasi berita hoax. Isu yang beredar, Ustadz Darto melarang santrinya berjabat tangan dengan orang Nasrani: melarang santrinya membeli dagangan orang Nasrani. Padahal Ustadz Darto kader Nahdlatul Ulama (NU) yang paham keislamannnya moderat. Sedemikian moderat sampai Ustadz Darto membiarkan anjing yang mereka bawa berkeliaran di pesantrennya.

Situasi berubah drastis. Para petinggi adat, suku dan pendeta di Papua berikrar akan menjaga keamanan pesantren yang dipimpin Ustadz Darto. Bahkan saat Darto membangun asrama santri, Pendeta Absalina Lusia Lesnusa, MTh berkenan meletakkan batu pertama.

Walhasil, secara rasial, primordial, dan plural keberagamaan, sejatinya pondasi bangunan keindonesiaan sudah selesai dan kokoh. Sebab secara alami, akulturasi rasial, primordial dan plural keagamaan sudah melebur dalam bingkai keindonesiaan sejati, yakni dari bawah. Ini berarti, jika terjadi konflik rasial, primordial kedaerahan dan keagamaan, maka yang robek bukan hanya bendera merah putih, tapi juga mencabik “nasib keseharian” warga Papua dan Jatim yang kini “berdomisili silang”.

Realitas ini makin menyadarkan rasa kemanusiaan kita, betapa tega para “petualang politik” yang secara ekonomi kelas menengah ke atas, menyulut petasan provokasi dengan bahan peledak berita hoax. Padahal risikonya - sekali lagi - bukan saja mengakibatkan bangsa tercabik, tapi juga mematikan “tungku api” kehidupan sehari-hari warga Papua yang berdomisili di Jatim dan warga Jatim yang berdomisli di Papua, terutama mereka yang kelas menengah ke bawah.

Karena itu sangat stategis ketika Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berencana membangun “asrama mahasiswa nusantara” atau “asrama mahasiswa nasional” atau apalah namanya. Asrama plural ini bukan saja akan menangkal gerakan “petualang politik” yang selama ini cenderung meracuni ideologi sparatis kepada mahasiswa di asrama mahasiswa eksklusif kedaerahan, tapi juga bisa menjadi “rumah bersama” para mahasiswa dari berbagai daerah sehingga bisa memupuk rasa persaudaraan, kekeluargaan yang guyub dalam bingkai NKRI dan Pancasila.

Anggaran tentu bisa ditanggung renteng alias subsidi silang: Pemerintah Pusat, Papua, dan Jawa Timur. Gagasan cemerlang ini tentu jangan berhenti di Jatim dan Papua, tapi perlu kita perluas ke seantero nusantara, misalnya, Aceh dan sebagainya. Sehingga dari Sabang sampai Merauke kita betul-betul jadi satu keluarga Indonesia.

*Em Mas’ud Adnan adalah Pemimpin Umum HARIAN BANGSA, BANGSAONLINE.COM dan BANGSAONLINE-TV

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Kamis, 21 November 2019 23:31 WIB
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Meluasnya kabar keberadaan destinasi wisata alam pohon besar yang mempunyai akar seribu di Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, membuat warga setempat penasaran. Kini, pohon akar seribu itu telah menjadi daya tarik da...
Rabu, 06 November 2019 12:44 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan*Para elit NU struktural tak bisa menyembunyikan kekecewaannya ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Maju pada 23 Oktober 2019 lalu. Kekecewaan itu dieskpresikan secara terbuka oleh Wakil Ketua PB...
Senin, 18 November 2019 12:31 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*71. Yawma nad’uu kulla unaasin bi-imaamihim faman uutiya kitaabahu biyamiinihi faulaa-ika yaqrauuna kitaabahum walaa yuzhlamuuna fatiilaan.(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpi...
Minggu, 22 September 2019 14:08 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...