Guru Tak Bisa Diganti Robot, Kini Jumlah Santri 4 Juta, Pesantren Capai 30 Ribu

Guru Tak Bisa Diganti Robot, Kini Jumlah Santri 4 Juta, Pesantren Capai 30 Ribu KH. Kikin Abdul Hakim (Gus Kikin), wakil pengasuh Pesantren Tebuireng memberi sambutan untuk bakti sosial dalam rangka "120 Tahun Pesantren Tebuireng" di Pesantren Teburieng Jombang, 23 hingga 25 Agustus 2019. foto: istimewa/ bangsaonline.com

Menurut dia, jika UN itu multiple choice yang hanya punya satu jawaban benar, maka guru harusnya membuatkan soal untuk para siswa, soal-soal yang membuat mereka berpikir dan tidak hanya punya satu jawaban benar saja.

Sementara Prof. H. Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, menyatakan Islam adalah lembaga terbanyak dan termasif di Indonesia. Di dunia, kata dia, tidak ada negara selain Indonesia yang memiliki jumlah lembaga Islam terbanyak dan termasif.

Menurut dia, madrasah di Indonesia kini mencapai angka 52.000. Pesantren berjumlah 30.000, Perguruan Tinggi Islam berjumlah 796, dengan jumlah santri mencapai 4 juta dan 7 juta siswa-siswi TPQ.

“Karena itu, karakter keberagaman di Indonesia tergantung karakter schoolarship Islam yang berkembang di Indonesia,” katanya. Tantangan kita, tegas dia, bukan hanya memperkuat bidang kognitif. “Tantangan terbesar kita adalah karakter, dan karakter memiliki distingsi ,” tambahnya.

Menurut dia, sebagai salah satu lembaga Islam saat ini merupakan salah satu rujukan karakter. Sebab, salah satu distingsi adalah proses yang bukan hanya transfer ilmu, melainkan melalui interaksi penuh yang terjalin selama di . “Pendidikan tak lagi dibatasi oleh bangku sekolah, melainkan setiap saat ada pelajaran yang dapat diambil dari setiap figur yang ada di ,” kata Kamaruddin Amin yang menggantikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Sementara Mohammad Zahri, Ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia yang tampil pada hari kedua (24/8/2019) mengungkapkan bahwa merupakan salah satu terbaik di Indonesia. Menurut dia, kiprah telah nyata. Faktanya, menghasilkan para ulama, tokoh nasional, bahkan presiden, wakil presiden, menteri, dan pejabat penting lainnya.

Ia mengapresiasi terhadap model , khususnya pondok Pesantren Tebuireng.

“Terlebih pondok Tebuireng dengan salah satu karya pendirinya, yaitu kitab ‘Adabul ‘Alim Wal Muta’alim’, karya KH.Hasyim Asy’ari yang sangat layak dijadikan referensi modern saat ini,” kata Muhammad Zahri.

Pada hari kedua juga hadir Menristek Dikti Muhammad Nasir. Ia mengingatkan agar yang ditanamkan pada siswa dibarengi dengan rasa nasionalisme. “Jadi dalam itu supaya muncul rasa nasioalisme, harus saling bersinergi. Kalau orang religious, pasti nasionalis, begitu sebaliknya,” katanya.

Acara “120 Tahun Pesantren Tebuireng” ini dipungkasi dengan istitghotsah dan testimoni para santri Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari. (tim)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO