Rabu, 05 Agustus 2020 00:24

Politik Uang di Pilkades Gresik Sulit Dihindari, Cakades Berani Beri Rp 300 Ribu/Pemilih

Jumat, 05 Juli 2019 09:50 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: M. Syuhud Almanfaluty
Politik Uang di Pilkades Gresik Sulit Dihindari, Cakades Berani Beri Rp 300 Ribu/Pemilih
Suasana simulasi pilkades serentak di halaman kantor Pemkab Gresik beberapa waktu lalu. foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE

GRESIK, BANGSAONLINE.com - Upaya DPRD dan Aparatur Penegak Hukum (APH) di Kabupaten Gresik mencegah praktik politik uang pada pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak di 265 desa pada 31 Juli mendatang, tampaknya bakal sulit.

Berdasarkan info yang dihimpun, saat ini calon kepala desa (cakades) berani jor-joran (berlomba-lomba) untuk menarik pemilih. Bahkan, ada cakades yang berani memberi uang Rp 300 ribu per pemilih. Hal ini sebagaimana pengakuan salah satu tim sukses cakades kepada BANGSAONLINE.com.

Data yang dihimpun BANGSAONLINE.com, cakades yang terbilang nekat itu kebanyakan berada di wilayah Kecamatan Benjeng dan Kedamean.

"Ya, paman saya yang maju di Pilkades serentak sudah menyiapkan (money politic, Red) Rp 300 ribu per pemilih. Kemarin kita sudah kasihkan uang muka tanda jadi Rp 100 ribu per pemilih, sisanya menyusul," ujar salah satu tim sukses cakades di wilayah Kecamatan Benjeng kepada BANGSAONLINE.com, Jumat (5/7).

Ia mengungkapkan, di desanya ada sekitar 2500 warga yang memiliki hak pilih. Untuk bisa meraih kemenangan, ia terang-terangan berusaha 'membeli' suara 1.500 pemilih melalui praktik money politic tersebut.

"Kami sudah siapkan tambak untuk dijual untuk modal beli biting (pemilih, Red)," ungkap dia.

Senada dikatakan tim sukses cakades di wilayah Kecamatan Kedamean. Menurut ia, cakades yang diperjuangkannya terbilang lebih eskstrim dibandingkan cakades di wilayah Benjeng. Sebab, ia mengaku cakadesnya telah menyiapkan uang antara Rp 5-6 miliar untuk meraih kemenangan.

"Cakades saya siap memberikan uang hingga Rp 1 juta per pemilih untuk memenangkan Pilkades. Saat ini kami terus bergerilya ke rumah warga untuk mencari simpati dan dukungan. Kita bagi-bagi sembako dan ngopi gratis," akui dia.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Kabupaten Gresik Nurul Yatim mengaku prihatin mendengar hal ini. Meski, ia juga tak yakin ada cakades yang akan memberikan uang Rp. 1 juta per pemilh. Namun, ia tak menampik kalau politik uang memang marak dilakukan oleh oknum cakades untuk memenangkan pemilihan.

"Iya saya akui itu benar. Makanya, kami telah lakukan rapat kerja dengan DPRD untuk mencegah praktik ini. Langkah ini kami tempuh agar Pilakdes serentak ini bermartabat, berkualitas, dan benar-benar menghasilkan pemimpin tingkat desa yang mumpuni," jelas dia.

Sementara Wakil Ketua DPRD Gresik Nur Qolib menyatakan, bahwa dewan telah memformulasikan larangan politik uang di Pilkades Serentak bersama APH.

"Bagi Cakades yang terbukti melakukan money politics bisa didiskualifikasi dari pencalonan. Dan, bagi pemilih yang menerima money politic bisa dipidanakan. Saat ini, imbauan larangan politik uang itu tengah disosialisasikan ke desa-desa. Diharapkan, meski tidak bisa memberantas tuntas, mininal bisa meminimalisasi terjadinya politik uang," kata dia. (hud/ns)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Jumat, 24 Juli 2020 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kreatif. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sudah dilakukan oleh Pemkot Surabaya dalam usahanya mempercantik kawasan Ekowisata Mangrove Medokan Sawah. Betapa tidak, dari sejumlah barang-barang bekas, sepe...
Kamis, 30 Juli 2020 21:34 WIB
Oleh: KH. Agoes Ali Masyhuri*Kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim yang menyerahkan dana hibah puluhan miliar rupiah kepada Tanoto dan Sampoerna Foundation membuat dua ormas besar Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah kecewa dan mundur dari organi...
Minggu, 02 Agustus 2020 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 03 Agustus 2020 11:04 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...