Kamis, 19 September 2019 14:24

Tafsir Al-Isra' 54-55: Dawud A.S., Wali Songo dan Seniman Jaman Now

Sabtu, 22 Juni 2019 17:29 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Isra
Wali Songo. foto: xasxus

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag

54. Rabbukum a’lamu bikum in yasya' yarhamkum aw in yasya' yu’adzdzibkum wamaa arsalnaaka ‘alayhim wakiilaan

Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia akan memberi rahmat kepadamu, dan jika Dia menghendaki, pasti Dia akan mengazabmu. Dan Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi penjaga bagi mereka.

55. Warabbuka a’lamu biman fii alssamaawaati waal-ardhi walaqad fadhdhalnaa ba’dha alnnabiyyiina ‘alaa ba’dhin waaataynaa daawuuda zabuuraan

Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.

TAFSIR AKTUAL:

" ... waa ataynaa daawuuda zabuuraan". Meski suaranya super bagus, meski punya kepiawaian dalam melantunkan ayat-ayat suci kitab al-Zabur, meski lantunannya sangat digandrungi oleh umat manusia, jin dan alam sekitar, tetapi seni suara yang dimiliki Dawud A.S. hanyalah sebagai perantara belaka untuk mendakwahkan kitab suci, bukan untuk berseni-ria yang komersial dan lahan mata pencaharian. Dawud A.S. tetap eksis sebagai seorang nabi yang berdakwah bijak, dan bukan menjadi seniman jalanan.

Sama halnya dengan para wali songo terdahulu. Sebagian Sunan menggunakan seni dan pentas pagelaran sebagai media dakwah, seperti sunan Bonang dan sunan Kalijogo. Hal itu karena seni dipandang cocok untuk situasi dan kondisi waktu itu. Tetapi harus diingat, bahwa seni sekadar media, bukan utama.

Setelah dakwah islamiyah sudah mulai bisa diterima dengan keutuhannya, maka seni ditinggalkan. Gamelan, wayangan, tembang, kidungan ditinggalkan. Tak ada lagi pentas seni yang konotasinya ada maksiat terselubung. Tak ada lagi pagelaran seni yang sifatnya nuruti nafsu.

Tembang "Lir ilir, Sluku-sluku batok" tidak lagi dinyanyikan sebagai tembang di pentas, tidak pula menjadi "tanggapan, tontonan" orang-orang desa, melainkan sudah berubah menjadi pitutur yang dihayati dan menjadi panduan beramal ibadah. Jadilah, Sunan Bonang, al-sayyid Maqdum Ibrahim eksis sebagai seorang Sunan, seorang Wali, sang pendakwah yang bijak, bukan seniman yang mengamen ke mana-mana mencari nafkah. Itulah bedanya, seni sebagai media dakwah zaman wali dan jaman now.

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Jumat, 23 Agustus 2019 22:22 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Masyarakat Kabupaten Ngawi dan sekitarnya kini sedang gandrung dengan destinasi wisata baru di Desa Bringin, Kecamatan Bringin, Ngawi. Di mana, salah satu obyek wisata yang dikenal dengan nama 'Jurang Krowak' banyak men...
Rabu, 11 September 2019 18:57 WIB
Oleh: Em Mas'ud Adnan*Indonesia – terutama Jawa Timur – memang sepotong taman surga. Tanah subur, pohon rimbun, air mengalir dan gunung bertebaran menghiasi alam. Indah luar biasa. Masih ditambah satu anugerah lagi: keajaiban alam!Lihatlah blue...
Jumat, 13 September 2019 23:27 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag61. Wa-idz qulnaa lilmalaa-ikati usjuduu li-aadama fasajaduu illaa ibliisa qaala a-asjudu liman khalaqta thiinaanDan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu semua kepada Adam,” ...
Sabtu, 17 Agustus 2019 11:29 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...