Rabu, 24 Juli 2019 01:43

Keracunan Air Ketuban, Berat Badan Balita di Jatikumpul Mojokerto Terus Menurun

Rabu, 10 April 2019 19:16 WIB
Editor: Yudi Arianto
Wartawan: Soffan Soffa
Keracunan Air Ketuban, Berat Badan Balita di Jatikumpul Mojokerto Terus Menurun
Fajar bersama neneknya. foto: SOFFAN/BANGSAONLINE

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Sungguh memprihatinkan kondisi yang dialami Ahmad Fajar, putra pasangan Rifai dan Yunita, warga Dusun Jatikumpul, Desa Mojokumpul, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto. Balita ini didiaknosa tim medis keracunan air ketuban saat di dalam kandungan. Di usianya yang menginjak 4 tahun ini, berat badanya hanya sekitar 5,5 kilogram dan kondisi tubuhnya sangat kurus.

Dari keterangan Asmiatun neneknya, Fajar dilahirkan di RSU dr Soetomo Surabaya. Tim dokter yang menangani saat itu dibuat gelisah lantaran selama 19 hari Fajar tidak bisa menangis. Bahkan sempat tidak bernafas selama 5 menit ketika lahir ke dunia.

“Melihat kondisi tersebut, dokter kemudian memberikan pertolongan hingga Fajar mampu untuk bernapas,” katanya.

Setelah kondisinya mulai normal dan sudah bisa menangis, Fajar kemudian diperkenankan pulang. Awalnya, berat badan Fajar normal sekitar 9 kilogram.

Namun masa ini tidak berlangsung lama, gejala penurunan berat badan mulai terlihat. Bahkan belakangan tubuhnya mulai terlihat kurus dan hanya perutnya yang membesar. Ironisnya lagi, tubuh balita ini menjadi kaku dan sulit untuk digerakan. “Ketika lahir kondisinya normal, tangan dan kakinya masih bisa ditekuk namun sekarang menjadi kaku,” terangnya.

Asmiatun mengatakan, kondisi cucunya yang semakin menyedihkan itu diakibatkan karena keracunan air ketuban saat masih berada di rahim ibunya. Informasi itu ia peroleh dari keterangan dokter RSU Dr Soetomo berdasar diagnosa medis. “Kata dokter, Fajar sudah terlanjur keracunan air ketuban yang berwana keruh,” tambahnya.

Keracunan air ketuban itu rupanya membawa dampak serius dan mengganggu perkembangan syaraf-syaraf organ tubuh Fajar. Gangguan syaraf itulah yang kini menyerang tangan dan kakinya hingga tak bisa digerakkan.

Ibunya rutin kontrol ke dr. Soetomo untuk memeriksakan kondisi Fajar yang keracunan air ketuban, sebelum akhirnya dia (ibu Fajar) meninggal dunia pada 2016 akibat infeksi paru-paru.

Derita Fajar kian bertambah dan kondisinya semakin memburuk dan memprihatinkan. Sementara itu ayahnya memilih tidak tinggal serumah dengan Fajar. 

Beruntung kini Fajar sudah mendapat penanganan tim medis dari RSUD RA Basuki Gedeg. (sof/ian) 

Kamis, 11 Juli 2019 16:29 WIB
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Siapa pun pasti tersenyum membaca nama tempat wisata ini. Maklum, identik alat vital wanita: “Tempik Gundul” yang artinya alat vital wanita tanpa bulu. Apalagi tulisan yang beredar di media sosial (medsos) juga d...
Minggu, 14 Juli 2019 13:13 WIB
Oleh: Dr. KH. M. Cholil NafisBaru saja, Kamis (12/7) saya berpartisipasi dalam kegiatan Bussiness Matching The 1st Pasific Exposition yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru.Pacific Exposition merupakan salah satu kontri...
Kamis, 18 Juli 2019 13:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraanOrang-orang yang mereka seru itu, ...
Sabtu, 29 Juni 2019 14:36 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...