Rabu, 24 April 2019 05:47

Tafsir Al-Isra 28: Perda Larangan Mengemis dan Mengamen

Minggu, 17 Maret 2019 23:15 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Isra 28: Perda Larangan Mengemis dan Mengamen
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag

28. Wa-immaa tu’ridhanna ‘anhumu ibtighaa-a rahmatin min rabbika tarjuuhaa faqul lahum qawlan maysuuraan

Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.

TAFSIR AKTUAL

Ayat studi ini (28) seolah menyoal persamaan antara memberi pengemis maksiat atau pengemen amoral dengan perbuatan memubazirkan harta. Hal itu masuk akal, karena memubazirkan harta adalah menggunakan harta halal untuk obyek yang tidak halal, yang haram, atau yang tidak ada manfaatnya dalam agama.

Sementara memberi uang kepada pengamen atau anak Punk diduga untuk foya-foya, pergaulan bebas laki-perempuan secara liar. Itu berarti membantu kehidupan liar mereka terus lestari tanpa ada upaya rehabilitasi. Lalu, apa kata tafsir aktual soal ini?

Ayat studi ini adalah jawabnya. Ibn Zaid menuturkan sabab nuzul ayat ini. Suatu ketika sekelompok orang datang merayu nabi dan meminta uang. Dilihat dari gelagatnya, mereka adalah orang-orang fasiq, di mana kesehariannya suka berbuat maksiat dan durhaka. Lalu nabi Muhammad SAW tidak berkenan memberi dengan harapan untuk menghentikan mereka agar tidak terus terjerumus dalam kemaksiatan. “ibtighaa-a rahmatin min rabbika tarjuuhaa..”. Kemudian ayat ini turun membenarkan.

Dari paparan di atas terjadi dua terma wahyu yang nampak berlawanan pesan. Pertama, memberi hak kepada pengemis untuk diberi, walau dia datang naik kuda, mobil mewah. Tesis ini dikuatkan al-Dluha:10, “bahwa pengemis tidak boleh dibentak”.

Sedangkan wahyu kedua adalah ayat studi ini, khususnya sabab nuzul yang dikedepankan Ibn Zaid, yakni Nabi menolak memberi pengemis yang diduga pemalas dan pemaksiat.

Jalan komprominya adalah, bahwa tesis Hadis pertama untuk pengemis baik-baik, utamanya pengemis terpaksa. Sebaiknya atau harusnya diberi, karena tidak ada indikasi hasil ngemisnya dipakai maksiat. Sedangkan tesis kedua untuk pengemis fasiq, hasil mengemisnya untuk kemaksiatan. Memberi pelaku maksiat sama dengan membantu maksiat.

Untuk itu, dipandang benar, berdasar, dan bagus bila pemerintah daerah membuat undang-undang larangan mengemis, mengamen, dan sebangsanya. Utamanya di lampu merah atau perempatan jalan dan sebangsanya. Selagi masih dibolehkan mengamen, maka kehidupan anak-anak Punk liar akan tetap subur. Karena di situlah sandang-pangan mereka. Mereka adalah anak kita juga. Kita wajib berupaya membaikkan mereka dengan cara yang baik.

Jika larangan mengamen benar-benar dikawal oleh aparat yang berkewajiban secara sungguhan, disiplin, dan tegas, maka satu sumber dana utama mereka tertutup. Dengan matinya sumber makan ini akan dapat menekan keliaran mereka. Lalu diedukasi secara memadai.

Bertambah banyaknya anak-anak Punk yang liar dan meresahkan bukan karena hebatnya kenakalan dan keliaran mereka, melainkan lebih karena kurang baiknya kepedulian kita dan lemahnya kerja aparat pemerintah.

Polda Jatim Gerebek Pabrik Makanan Ringan Berbahan Tawas dan Bumbu Kadaluarsa di Sidoarjo
Jumat, 15 Maret 2019 05:14 WIB
SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Tim Satgas Pangan Polda Jatim menggerebek pabrik produksi makanan ringan (snack) di Dusun Dodokan, Desa Tanjungsari, Taman, Sidoarjo, Kamis (14/3). Dalam penggerebekan ditemukan bahan baku berbahaya dan kadaluarsa y...
Selasa, 26 Maret 2019 21:54 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - KAI Daop 7 ajak beberapa wartawan wilayah Madiun, mulai dari wartawan cetak, online, dan televisi, ke tempat bangunan bersejarah Lawang Sewu dan Stasiun Ambarawa, Selasa (26/3). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari (25-26...
Izza Kustiarti
Senin, 22 April 2019 17:12 WIB
Oleh: Izza Kustiarti*Pemilu serentak 2019 merupakan pemilu perdana yang menyertakan antara pemilihan legislatif dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Penyelenggaraan pemilu serentak merupakan titah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nom...
Senin, 22 April 2019 00:24 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag36. Walaa taqfu maa laysa laka bihi ‘ilmun inna alssam’a waalbashara waalfu-aada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas-uulaanDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Se...
Dr. KH. Imam Ghazali Said.
Jumat, 01 Februari 2019 11:02 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...