Sabtu, 30 Mei 2020 15:23

Tafsir Al-Isra 28: Perda Larangan Mengemis dan Mengamen

Minggu, 17 Maret 2019 23:15 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Isra 28: Perda Larangan Mengemis dan Mengamen
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag

28. Wa-immaa tu’ridhanna ‘anhumu ibtighaa-a rahmatin min rabbika tarjuuhaa faqul lahum qawlan maysuuraan

Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.

TAFSIR AKTUAL

Ayat studi ini (28) seolah menyoal persamaan antara memberi pengemis maksiat atau pengemen amoral dengan perbuatan memubazirkan harta. Hal itu masuk akal, karena memubazirkan harta adalah menggunakan harta halal untuk obyek yang tidak halal, yang haram, atau yang tidak ada manfaatnya dalam agama.

Sementara memberi uang kepada pengamen atau anak Punk diduga untuk foya-foya, pergaulan bebas laki-perempuan secara liar. Itu berarti membantu kehidupan liar mereka terus lestari tanpa ada upaya rehabilitasi. Lalu, apa kata tafsir aktual soal ini?

Ayat studi ini adalah jawabnya. Ibn Zaid menuturkan sabab nuzul ayat ini. Suatu ketika sekelompok orang datang merayu nabi dan meminta uang. Dilihat dari gelagatnya, mereka adalah orang-orang fasiq, di mana kesehariannya suka berbuat maksiat dan durhaka. Lalu nabi Muhammad SAW tidak berkenan memberi dengan harapan untuk menghentikan mereka agar tidak terus terjerumus dalam kemaksiatan. “ibtighaa-a rahmatin min rabbika tarjuuhaa..”. Kemudian ayat ini turun membenarkan.

Dari paparan di atas terjadi dua terma wahyu yang nampak berlawanan pesan. Pertama, memberi hak kepada pengemis untuk diberi, walau dia datang naik kuda, mobil mewah. Tesis ini dikuatkan al-Dluha:10, “bahwa pengemis tidak boleh dibentak”.

Sedangkan wahyu kedua adalah ayat studi ini, khususnya sabab nuzul yang dikedepankan Ibn Zaid, yakni Nabi menolak memberi pengemis yang diduga pemalas dan pemaksiat.

Jalan komprominya adalah, bahwa tesis Hadis pertama untuk pengemis baik-baik, utamanya pengemis terpaksa. Sebaiknya atau harusnya diberi, karena tidak ada indikasi hasil ngemisnya dipakai maksiat. Sedangkan tesis kedua untuk pengemis fasiq, hasil mengemisnya untuk kemaksiatan. Memberi pelaku maksiat sama dengan membantu maksiat.

Untuk itu, dipandang benar, berdasar, dan bagus bila pemerintah daerah membuat undang-undang larangan mengemis, mengamen, dan sebangsanya. Utamanya di lampu merah atau perempatan jalan dan sebangsanya. Selagi masih dibolehkan mengamen, maka kehidupan anak-anak Punk liar akan tetap subur. Karena di situlah sandang-pangan mereka. Mereka adalah anak kita juga. Kita wajib berupaya membaikkan mereka dengan cara yang baik.

Jika larangan mengamen benar-benar dikawal oleh aparat yang berkewajiban secara sungguhan, disiplin, dan tegas, maka satu sumber dana utama mereka tertutup. Dengan matinya sumber makan ini akan dapat menekan keliaran mereka. Lalu diedukasi secara memadai.

Bertambah banyaknya anak-anak Punk yang liar dan meresahkan bukan karena hebatnya kenakalan dan keliaran mereka, melainkan lebih karena kurang baiknya kepedulian kita dan lemahnya kerja aparat pemerintah.

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Sabtu, 23 Mei 2020 12:36 WIB
Oleh: Firman Syah AliSaat ini gelar Habib sedang populer di Indonesia karena beberapa peristiwa. Diantaranya Insiden Habib Umar Abdullah Assegaf Bangil dengan mobil sedan mewah Nopol N 1 B diduga melanggar peraturan pemerintah tentang pembatasan sosi...
Selasa, 26 Mei 2020 23:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*22. Sayaquuluuna tsalaatsatun raabi’uhum kalbuhum wayaquuluuna khamsatun saadisuhum kalbuhum rajman bialghaybi wayaquuluuna sab’atun watsaaminuhum kalbuhum qul rabbii a’lamu bi’iddatihim maa ya’lamuhum...
Rabu, 13 Mei 2020 11:23 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <&...