Jumat, 19 Juli 2019 03:28

Wali Murid Ungkap Aksi Oknum Guru Cabul di SDN Malang, Dilakukan di Ruang UKS hingga di Lapangan

Selasa, 12 Februari 2019 22:51 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Iwan Irawan
Wali Murid Ungkap Aksi Oknum Guru Cabul di SDN Malang, Dilakukan di Ruang UKS hingga di Lapangan
Irina Rosemaria, Kepala SDN Kauman 3 Malang, yang enggan diwawancarai awak media. foto: IWAN/ BANGSAONLINE

MALANG, BANGSAONLINE.com - Aksi pedofilia seorang guru olahraga di SDN Kauman 3 Malang berinisial IS (59), mulai terungkap. Ml (45 tahun) dan Ua (38) orang tua 2 dari 20 siswi yang menjadi korban IS, Selasa (12/2), menceritakan bagaimana pelaku melancarkan aksi bejatnya.

Menurut MI, aksi pencabulan IS terhadap 20 siswinya bisa dilakukan dalam berbagai kesempatan. Bahkan, meski proses mengajar kepada siswa-siswinya berlangsung di tengah lapangan, IS masih bisa mengambil kesempatan untuk mencabuli siswinya.

"Ibarat kata mengambil kesempatan dalam kesempitan," ujar Ml saat ditemui di tempat kerjanya di kawasan kampus, Selasa (11/02).

Misalnya saat materi pelajaran tentang bola voli. Ketika ada siswi menanyakan teknik servis maupun menerima bola, ia mencuri-curi kesempatan sambil mempraktikkan cara servis kepada siswi.

"Di situ, IS langsung menyelipkan tangannya ke bagian depan tubuh siswi, meremas payudara atau menyentuhnya dengan cepat. Itu terjadi tidak hanya pada satu murid saja, melainkan beberapa siswi," ungkap Ml.

Masih kata Ml, perilaku IS tidak berhenti pada meremas saja. Bahkan, salah satu siswi ada yang diperlakukan seperti perempuan dewasa. "Ada siswi yang disuruh memainkan alat vital IS dengan tangannya hingga mencapai klimaks. Ada juga siswi yang dipangku sambil ditekankan ke vitalnya, ditambahkan memeras payudaranya, sampai klimaks," kata Ml secara detail.

Ml mengungkapkan, saat rapat tanggal 29 Januari lalu, salah seorang wali murid sempat menyeletuk di forum, jika ada seorang guru honorer berinisial Mg yang memergoki aksi cabul oleh IS tersebut, lalu direkam menggunakan Hp miliknya. "Dan kami para wali murid menghendaki agar Mg segera dihadirkan," pinta Ml.

Menanggapi permintaan wali murid, Irina Rosemaria selaku Kepala SDN 3 Kauman, dan Nanang D Priyono selaku Komite sekolah, saat itu berjanji akan menghadirkan Mg.

"Tapi nyatanya sampai sekarang tidak terwujud. Secara tidak langsung kami dialihkan pembicaraannya," cerita Ml.

"Video tersebut, sampai saat ini juga tidak terdeteksi keberadaannya, seperti hilang ditelan bumi, raib tak jelas keberadaannya. Bisa jadi dihapus," tambah Ml.

Ua (38), wali murid lain yang anaknya juga menjadi korban IS, turut membenarkan penuturan Ml. Ia menceritakan, ada dua siswi yang pernah dimasukkan ke ruangan UKS. Keduanya siswi kelas 4 dan kelas 3 di. "Dipangku dan digerayangi habis-habisan oleh IS, akhirnya keduanya merasa khawatir dan kesal dengan perbuatan cabul gurunya, langsung melarikan diri dari dekapan IS," ungkap UA.

Terkait hal ini, Ua dan Ml meminta agar IS dihukum untuk memberikan efek jera. "Jangan hanya ditarik ke kantor begitu saja. Bahkan sanksi pemecatan ASN tidak cukup, minimal harus dipenjara," tegas Ua.

Sementara Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri, saat dihubungi wartawan terkait hal ini, menyampaikan jika pihaknya masih melakukan pendalaman. "Mohon bersabar teman media, karena proses penyelidikan," tukasnya saat dikonfirmasi.

Sebelumnya, Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan bahwa sanksi untuk IS akan diberikan sesuai PP 53 tahun 2010 yang mengatur tentang sanksi bagi ASN yang melanggar. "Sedangkan sisi hukumnya akan diproses Polres, jika IS terbukti melakukannya," ujar Sutiaji saat mengunjungi SDN Kauman 3, kemarin.

Di sisi lain, Aris Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak berharap kepada orang tua yang anaknya menjadi korban, supaya melapor ke Kepolisian. "Ini bukan sebuah aib, tapi aksi yang tidak semestinya terjadi, sehingga perlu dilaporkan. Jika orang tuanya tidak mensupport, menjadikan anak tidak memiliki keberanian saat kondisi mentalnya terkontaminasi," cetusnya.

Aris juga mendesak agar Pemkot dan Polres Malang Kota mengusut tuntas perkara pidana kejahatan seksual ini. Apalagi korbannya lebih dari 1 orang. "Dan orang yang menghalangi korban atau wali murid untuk melaporkan ke pihak berwajib, itu termasuk bagian dari perbuatan pidana," tandasnya.

"Untuk itu, pihak manapun tidak boleh ada yang menutup-nutupi akan permasalahan jahat. Ancamannya bisa dipidanakan, jika ada pihak yang menghalangi atau menutupinya," pungkasnya. (iwa/rev)

Kamis, 11 Juli 2019 16:29 WIB
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Siapa pun pasti tersenyum membaca nama tempat wisata ini. Maklum, identik alat vital wanita: “Tempik Gundul” yang artinya alat vital wanita tanpa bulu. Apalagi tulisan yang beredar di media sosial (medsos) juga d...
Minggu, 14 Juli 2019 13:13 WIB
Oleh: Dr. KH. M. Cholil NafisBaru saja, Kamis (12/7) saya berpartisipasi dalam kegiatan Bussiness Matching The 1st Pasific Exposition yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru.Pacific Exposition merupakan salah satu kontri...
Kamis, 18 Juli 2019 13:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraanOrang-orang yang mereka seru itu, ...
Sabtu, 29 Juni 2019 14:36 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...