Selasa, 11 Desember 2018 04:00

BNPB Tetapkan Empat Desa di Pacitan Sebagai Pilot Projects Destana

Kamis, 06 Desember 2018 10:14 WIB
Editor: Rizki Daniarto
Wartawan: Yuniardi Sutondo
BNPB Tetapkan Empat Desa di Pacitan Sebagai Pilot Projects Destana
Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Hadi Sutrisno saat memberikan keterangan pers. Foto: Yuniardi Sutondo/ bangsaonline.com

PACITAN, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Pacitan dengan letak geografis yang bergunung dan berbukit cukup berpotensi terjadi bencana alam. Bahkan kabupaten berpenduduk sekitar 580 ribu jiwa lebih itu masuk dalam ring of fire (cincin api).

"Itulah perlunya pembentukan desa tangguh bencana (Destana) agar masyarakatnya memiliki kemampuan mandiri dalam menghadapi segala potensi ancaman bencana," ujar Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPB Hadi Sutrisno, pada seminar akhir pembentukan Destana di Pendapa Pemkab Pacitan, Kamis (6/12).

Menurut Hadi, dengan adanya Destana, masyarakat diharapkan mampu melakukan pemulihan diri dengan cepat ketika terjadi musibah bencana alam. Suatu desa atau kelurahan bisa dikatakan memiliki kemampuan serta ketangguhan terhadap bencana, yaitu ketika desa atau kelurahan tersebut mampu mengenali ancaman serta mampu mengorganisir diri beserta sumber daya yang dimilikinya.

"Dengan begitu, desa ataupun kelurahan tersebut bakal mampu mengurangi kerentanan sekaligus bisa meningkatkan kapasitas guna mengurangi segala risiko bencana," jelas Hadi.

Sementara itu, pada tahap awal ini, ada empat desa yang dijadikan pilot projects pembentukan desa tangguh bencana. Keempat desa tersebut meliputi, Desa Klesem dan Karanganyar, Kecamatan Kebonagung, Desa Kedungbendo dan Mangunharjo, Kecamatan Arjosari.

"Kami berharap dengan empat desa yang dijadikan pilot projects Destana tersebut, ke depan akan bisa menjadi sarana edukasi bagi desa-desa lainnya," sambung Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Pacitan Didik Alik Wibowo.

Didik menegaskan, agar masyarakat selalu siap dan siaga dalam menghadapi segala kemungkinan terjadinya bencana. Apalagi bencana itu datang secara tiba-tiba dan sulit untuk diprediksi.

"Biasanya bencana datang saat kita ini lengah. Misalnya pada malam hari atau saat hari-hari libur. Karena itulah, perlunya kewaspadaan agar seandainya terjadi bencana, masyarakat benar-benar siap dan mandiri dalam menghadapi bencana tersebut," jlentrehnya.

Menurut Didik, bukanlah suatu jaminan bagi Destana akan terhindar dari bencana. "Sebagai analoginya ketika seseorang telah memiliki surat izin mengemudi (SIM), bukan suatu jaminan mereka akan terhindar dari kecelakaan saat berkendara. Namun setidaknya, dengan bekal kesiapan tentu setidaknya akan bisa meminimalisir risiko yang lebih fatal seandainya terjadi musibah," tandasnya. (yun/rd)

Jumat, 07 Desember 2018 13:40 WIB
Oleh: Muchammad Toha*Terlalu pagi saya mendarat di Bandara Hang Nadim, karena untuk sampai di Batam tanpa transit di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta dapatnya pesawat pagi. Maka, cukup alasan hotel untuk tidak memberikan kamar pada saya. Bah...
Senin, 03 Desember 2018 14:30 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .  Waja’alnaa allayla waalnnahaara aayatayni famahawnaa aayata allayli waja’alnaa aayata alnnahaari mubshiratan litabtaghuu fadhlan min rabbikum walita’lamuu ‘adada alssiniina waalhisaaba wak...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...