Serangga Melawan Raja

Ketika Abdul Muttalib, sesepuh Makkah itu diberitahu akan datangnya pasukan gajah pimpinan raja Abraha yang hendak menghancur leburkan ka’bah, sang kakek nabi itu sama sekali tidak gelisah, justru senyum dan mempersilahkan: “ Silakan mereka melakukan apa mereka mau. Mereka tidak berhadapan dengan kita, melainkan berhadapan langsung dengan penguasa rumah tua itu sendiri. Ya Tuhan, terserah kepadaMu, engkau mau menyikapi apa”.

Semua penduduk Makkah hanya pasrah melihat rombongan pasukan gajah yang gagah perkasa, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali hanya bengong dan menunggu apa yang bakal terjadi. Sungguh menakjubkan kawanan burung langit (thair ababil) turun membombardir pasukan gajah itu cukup dengan kerikil jahanam, maka dalam sekejap musuh Tuhan itu hancur luluh bak rerumputan lembuh dikunyah-kunyah.

Bebarengan dengan datangnya pasukan gajah itu mendekati Ka’bah, burung-burung itu datang menghajar. Bebarengan dengan kehancuran mereka, burung-burung itu seketika menghilang.

Adalah raja Namrudz yang gagah, kejam dan bengis. Siapapun ditantang dan nabipun direndahkan. Tuhan tidak mengutus nabi berperang melawan mereka. Tidak pula boleh dilawan dengan segala bentuk kekerasan. Dakwah tetap berjalan dengan lembut dan taktis.

Tapi sang raja malah durhaka dan makin pongah. Diriwayatkan, katanya, tiba-tiba raja ini sakit kepala bukan main usai bangun tidur.

Berteriak kesakitan, membanting-banting badannya sendiri, membentur-benturkan kepalanya hingga mati mengenaskan. Ternyata, serangga kecil masuk hidungnya saat dia tidur dan terus menerus bergerak mengganggu sarafnya tanpa bisa dikeluarkan.

Sang sufi memberi wejangan,: ”dosa kecil jangan dianggap remeh. Segera dihalau sebelum membesar dan merusak amal kebajikan”.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO